oleh Christian Barus

:untuk Abangku

 

 

Aku sendirian sore itu, berdiri di pinggir jalan beraspal yang menghubungkan Talun dengan Deli Tua. Bapakku tidak bisa mengantarkan—beliau satu-satunya yang bisa mengemudikan sepeda motor—karena hari ini bertepatan dengan undangan pernikahan kerabat kami di kampung sebelah. Alhasil aku harus berangkat dengan menumpang angkutan umum. Di atasku langit mendung mengawasi. Awan abu-abu menggumpal, melatarbelakangi gerakan  pucuk-pucuk pohon yang diembus angin bulan Oktober. Terasa dingin menyapu kulitku. Selain pikiran yang penuh dengan bayang-bayang Anta, aku mulai khawatir akan turun hujan. Aku membayangkan seandainya ia bisa menjemputku—atau seandainya aku tak pulang dua hari yang lalu. Lantas kutepis. Sudahlah. Dia takkan datang. Ia sedang sibuk. Lagi pula jarak dari Medan ke sini sangatlah jauh. Tunggu saja angkotnya.

Hampir setengah jam menunggu, tak ada satu angkot pun yang melintas. Mau tak mau aku jadi melamunkan beberapa hal. Lagi lagi, Anta. Katanya ia akan menungguku di Titi Kuning.

“Maafin aku,” imbuhnya sebelum kuputuskan mematikan telepon.

Mungkin begitulah ia harus bertindak. Katanya, ketiga abangnya juga merantau. Mengadu nasib di tempat jauh. Atau seperti dalihnya yang lain: membawa-bawa masa muda bapaknya. Beliau juga merantau dulu. Hampir belasan tahun di tanah seberang, lalu ia pulang kampung dengan membawa hasil. Lantas menikahi perempuan yang dikenalnya di perantauan sana. Berkeluarga, menjadi pintu kedatangan bagi Anta dan saudara-saudaranya ke dunia ini. Apa yang harus kukatakan selain pergilah—dengan ikhlas?

Ketika langit di atasku terbatuk beberapa kali, dan membuatku panik, akhirnya mobil berwarna kuning itu muncul dari balik tikungan. Ia tampak ringkih, pucat, lampu depan sebelah kiri pecah. Sekilas aku bisa melihat melalui kaca depan, para penumpang di dalam sudah berdesak-desakan. Sebelah kaki seseorang menyembul dari pintu penumpang. Terlintas di benakku menunggu yang berikutnya saja.

“Enggak ada lagi angkot di belakang, Dek!” seru Pak Sopir setelah mobilnya berhenti.

Agak mendengus aku merutuk dalam hati. Karena tak ingin berdesak-desakan di belakang, aku memilih duduk di depan. Seorang pemuda mengenakan kaus kuning, bergeser lebih dekat ke arah sopir, memberikan ruang agar aku bisa duduk. Ternyata ada seorang anak kecil lagi di antara mereka. Bocah perempuan yang sekilas melihatku kesusahan masuk ke dalam mobil. Kami pun bersempit-sempitan di kursi depan. Hujan turun sesaat setelah angkot kembali merayap di jalan beraspal.

Lalu, kesialan muncul sebab kaca pintu tidak bisa dinaikkan. Pemutarnya patah. “Kemarin siang ada yang bikin ulah. Enggak mungkin sewa disuruh ganti, enggak enak,” adu Pak Sopir.

“Kalau dibiarkan begitu, lama-lama bisa mandi juga kakak ini,” sahut pemuda itu.

“Ada tang di laci,” balas Pak Sopir tanpa menoleh.

Aku diam saja.

Pemuda berkaus kuning itu mengambil tang yang sopir katakan. Ia menemukannya di antara perkakas yang lain di dalam laci dasbor. Aku bergeser, menjejalkan punggungku, mundur ke sandaran kursi agar ia lebih leluasa memutar pangkal-pemutar yang patah itu. Beberapa kali usahanya gagal. Tersenyum getir lalu ia pun menyerah. “Macet,” katanya.

“Ya, sudah. Enggak apa-apa, Bang. Basah sedikit saja.”

“Tukaran tempat, mau?” tawarnya.

Aku memaksakan senyum, memeluk tasku lebih erat. Kupikir—“Di sini saja deh!”–lebih baik tidak usah bergerak dalam ruang sesempit itu. Ditambah lagi angkot sedang melaju di tengah cuaca buruk.

Udara semakin dingin. Lebih dingin lagi akhir-akhir ini. Namun diam-diam, karena posisi kami memang berhimpitan, aku bisa merasakan hangat tubuh pemuda itu. Entah pantas atau tidak, hal tersebut membuatku malah merindukan Anta. Aku teringat pertama kali ia memelukku. Waktu itu kami berdua di sebuah lokasi wisata air terjun. Waktu itu… Tanpa sadar aku menggelengkan kepala. Berkata pada diriku sendiri: percuma, percuma. Kau hanya ingin mengingat yang indah. Ada yang bilang supaya kau tetap hidup, bertahan, dan juara. Namun, jelas percuma mengenang kebersamaan kalian karena takkan mampu mengubah apa pun. Ah, lebih baik memperhatikan hujan.

“Mau pulang ke mana, Kak?”

Agak gugup, aku menjawab: “K-ke Pancing.” Menoleh sekilas, aku baru sadar pemuda berkaos kuning itu berkumis dan berjanggut tipis. Ia baru mencukurnya. Mungkin beberapa hari yang lalu. Mirip Anta—atau masalahku yang membuatnya tampak demikian. Menaksir usianya, kupikir tidak seharusnya ia memanggilku “Kak”. Sepertinya—

“Oh, kuliah ya?” ia bertanya lagi.

—mustahil ia masih mahasiswa.

Aku cukup mengangguk.

“Jurusan apa?”

“Tata Boga.”

Tampak mimik keheranan dari gerak halus di kedua alisnya yang tebal. Kuduga ia adalah satu dari sedikit orang yang tahu ada jurusan Tata Boga. Siapa yang mengajarimu memasak selain ibumu sendiri? Dan kenyataannya, bapakku masih bertanya-tanya sampai sekarang: “Kalau lulus kerja apa? Melamar di perusahaan yang bagaimana?” Memang tak ada nada sinis sewaktu ia menanyakan itu. Namun, bukan rahasia lagi banyak mahasiswa mencari gelar dan ijazah saja. Namun, sebuah pembelaan dari ibuku, meski ia tak harus melakukannya, masih kuingat persis: “Asal sudah sarjana, pasti bisa kerja di mana saja.” Entah aku harus berterima kasih atau membantah karena bagaimanapun aku menyukai kegiatan memasak.

“Pintar masak dong?”

Dan orang ini tampak antusias.

Meski merasa agak berlebihan, kadang aku merasakannya, ia membuatku seperti ditarik kembali ke hari-hari pertama berkuliah dulu. Tentang pembicaraan dengan teman-teman baruku soal memasak. Menu apa saja yang biasa dimasak di rumah masing-masing dan pertanyaan sedang apa kita di sini?

“Enggak pintar-pintar amat sih, Bang. Cuma hobi.”

“Hm, masak di rumah, masak di kampus ya? Keren. Kalian pasti sudah masak banyak jenis makanan?”

“Hampir semua yang murah-murah di pasar,” balasku agak menyesal.

“Omong-omong, orang tua saya punya kolam ikan. Ada resep hebat memasak ikan mas?”

Aku menoleh padanya. Kali ini tidak hanya sesaat. Kulihat ia tersenyum tipis dengan air wajah menyenangkan. Membuatku sedikit pun tak mengira ia hanya sekadar membuat obrolan. Mungkin saja. Mungkin saja benar orang tuanya punya kolam ikan. Dan mereka memelihara ikan mas, ikan nila, atau ikan lainnya yang umum dijual di pasar tradisional.

“Setahu saya cuma dibakar, diarsik, selain digulai. Yang agak-agak kecil, tiga-empat jari, digoreng dan disambal. Rasanya cuma begitu-begitu saja ya?” sambungnya karena aku belum mengatakan apa-apa.

Untungnya angkot menepi: Seorang penumpang turun, dua penumpang baru naik dengan buru-buru sebelum hujan membuat pakaian mereka basah. Ketika angkot bergerak lagi, aku sudah tak tahu cara menjawab pertanyaan pemuda berkaos kuning itu, karena Pak Sopir mulai berceramah disulut penumpang yang baru masuk. Pemuda di sebelahku juga ikut bertanya keheranan karena angkot jadi sepi. Lantas Pak Sopir dengan tawa renyah mengatakan para sopir juga punya hari libur. Hari Minggu begini cuma sedikit sopir memilih narik karena biasanya sepi penumpang. Namun kenyataannya ada beberapa calon penumpang yang tidak bisa lagi diangkut karena mobil sudah penuh sesak.

“Kalau sopirnya masih lajang, mereka bilang kapan lagi waktu nyari calon!” Pak Sopir tertawa, “Itulah bedanya,”—sambungnya sambil memutar setir—”sama yang sudah berkeluarga ini. Kalau kami, ada yang harus dikasih makan. Anak sekolah harus beli buku, harus beli baju, beli sepatu—belum lagi mereka minta jajan. Jajanan anak-anak mahal-mahal pula.” Kali ini dia mengacak-acak rambut bocah di sampingnya. “Pisang goreng dua ribu cuma dapat tiga! Di rumah harus beli cabe-bawang. Kalau enggak gitu, pulang narik angkot nanti, makanan tak ada enaknya.”

“Zaman saya muda dulu, ck, cari cewek itu susah kalau tak berduit,” Pak Sopir masih lanjut bernostalgia. “Kalau tak ada uang beli mi sop, lebih baik tak usah datangi anak orang. Nanti dilempari batu kita sama dia. Hahahaha!”

Aku dan laki-laki itu serentak ikut tertawa, meski hujan lebih dulu menelan bunyi tawaku. “Sekarang juga masih sulit, Pak, kalau enggak ada kereta!” sambut pemuda tadi.

“Gampang itu! Kridit saja. Depe lima ratus ribu, bawa pulang satu kereta. Makanya wajar sewa sepi. Semua orang lomba-lomba beli kereta. Dua-tiga bulan, tak bisa bayar, tak apa-apa. Tarik aja. Nanti kalau ada uang lagi, depe-kan lagi yang baru!”

Mereka mengobrol sambil tertawa-tawa, tapi aku tidak lagi serius mendengarkan karena celana jin di bagian pahaku sudah dirembesi air. Aku bergeser sedikit walau kutahu percuma. Pemuda itu juga kesulitan menjaga posisi. Kupikir awalnya ia sengaja agar tempatnya tidak bertambah sempit. Namun aku merasa bersalah, karena kenyataannya ia kelihatan bertahan begitu demi bocah Pak Sopir yang duduk di antara mereka.

“Karena hobi maka kuliahnya jurusan Tata Boga?” kembali ia bertanya.

“Iya, Bang.”

“Semester berapa sekarang?”

Aku tersenyum hambar. “April tahun depan wisudanya.”

“Selamat ya! Setelah ini, mau mengajar atau jadi koki nih? Ikutan program di TV itu saja, Kak!”

“Maunya mengajar saja, Bang,” balasku.

Ia meng-o cukup panjang. “Kalau kuliah Tata Boga, hobi memasak pula, minimal punya rumah makan, dong! Semacam kafe atau resto begitu? Sesekali nanti, saya bolehlah mampir?”

“Enggak punya, Bang,” tawaku lepas. “Masih cita-cita. Mungkin saya akan buka usaha nantinya. Tapi butuh modal banyak!”

“Ya, apa-apa memang selalu pakai modal sih.”

“Kalau Abang, sudah kerja?” gantian aku yang bertanya.

“Masih menganggur.”

“Orang Talun juga?”

“Bukan. Lau Rempak tahu? Kemarin ditelepon ortu, biar saya datang ke kampung Beringin membantu mereka menyortir ikan.”

Aku menggumamkan nama kampung itu.

“Dan ini mau balik ke Adam Malik.”

“Masih kuliah?” tanyaku.

Pemuda itu nyengir. “Tampangku tampang mahasiswa ya? Baguslah. Belum kelar nih kuliahnya, makanya pulang lagi.”

“Maksudnya?”

“Jadi malu. Dulu saya pergi merantau dan kuliah pun terbengkalai. Ini pulang dengan niat membetulkan apa yang tidak betul. Hehehe.”

Sial. Aku merasa sedang diledek situasi sekarang. Kulemparkan pandangan ke jalan lurus berkabut di depan. Ada perantau di sebelahku dan hujan mengurung kami dalam angkutan umum. Tampaknya hujan belum akan berhenti. Mungkin sampai Titi Kuning. Rasanya, mendadak aku terdampar dalam sebuah tempat kosong berdinding abu-abu. Aku tak menemukan apa-apa di sana selain diriku sendiri yang gelisah. Bayangan Anta muncul seketika. Tersenyum padaku dan membuatku ingin berteriak. Memanggilnya karena ia perlahan-lahan seperti ditarik sesuatu.

“Saya ada teman yang masih kuliah tapi malah pergi merantau,” kataku yang sesungguhnya berharap pemuda itu tak mendengar. “Betah di sana, dia enggak mau pulang lagi.” Jelas sudah kini Anta menyisip masuk dalam kata-kataku.

“Kakak ini seperti pembaca pikiran saja!”

Napasku mendadak terasa berat.

“Hidup di perantauan itu, buat saya sangat menyenangkan, meski pekerjaan enggak begitu menjanjikan atau belum dapat kerja. Tapi entah ya kalau orang lain. Kalau semisal punya kerjaan bagus, terus malah butuh ijazah, mau enggak mau harus pulang juga kan? Itu kalau masih bisa kuliah. Kalau enggak bisa? Ya terima apa adanya. Payah memang. Saat ini, apa-apa saja memang selalu pakai tamatan!”

“Lalu apa alasan mereka yang enggak mau pulang itu, semisal mereka masih bisa lanjut kuliah?” tanyaku.

“Macam-macam, Kak. Belum cukup ongkoslah, belum ada waktulah. Banyaklah alasannya. Asal jangan enggak bisa pulang karena keburu nikah saja. Hahahaha.”

Sialan! Aku memilih merespon dalam hati—

“Kalau saya sih, ini selesai wisuda nanti, mau pergi lagi. Mau ke Jogja.”

—yang sedetik kemudian merasa getir.

Mungkin hal ini yang tak kuasa kusampaikan pada Anta. Kupikir dia sudah tahu betapa aku takut kehilangan. Namun ia sudah bulatkan tekad. Tidak ada alasan bagiku untuk mengoyahkan keputusannya. Ia sudah tidak bisa dicegah. Dan sebagai pacar, sayangnya sebatas sebagai seorang pacar, aku tidak harus menghalangi impiannya itu. Mungkin semua laki-laki di keluarga mereka sudah digariskan untuk pergi jauh. Seolah-olah ditakdirkan begitu saja untuk berjuang di tanah asing. Kata Anta yang tidak bisa kuterima: Lebih baik jadi kambing tapi di kampung orang, daripada jadi banteng tapi di kampung sendiri.

Kenapa tidak di sini dan jadi suamiku saja?

Rasanya aku akan menangis.

Pertama kali dalam kurun setahun, aku merasa harus memeluk mamakku. Maka beberapa hari yang lalu aku pulang demi menenangkan diri. Sempat ingin memutuskan berbo­hong dari Anta agar aku bisa tinggal lebih lama di kampung. Namun ternyata waktu menjadi semakin sulit saat jauh darinya—dengan pikiran seperti ini. Sebagian dari diriku ingin terus bersamanya. Sebagian lagi masih ragu. Aku juga tidak mau terpergok sering melamun selama di rumah karena memikir­kan perpisahan yang pasti akan kuhadapi dalam beberapa hari ke depan.

Anta, apa yang akan kukatakan begitu kami bertemu di Titi Kuning? Sesungguhnya aku tidak ingin melihatnya meskipun tetap ingin bersamanya di sisa waktu yang kami miliki. Membuatku bertambah kacau sekaligus sedih karena tahu setelah itu semua takkan lagi pernah sama.

“Saya pikir tadi Kakak mahasiswa jurusan Sastra.” Pemuda itu menyelamatkanku pusaran lamunan.

“Kenapa begitu?” tanyaku.

“Soalnya sedikit orang yang saya temui mengamati hujan.”

“Oh, saya suka saja.”

“Enggak punya kata-kata selain itu?”

“Kalau yang Abang maksud soal kata-kata romantis, saya enggak mengerti,” kataku tersenyum hambar.

Ia mengangguk sambil mengusap-usap kumisnya. “Beberapa orang yang saya kenal suka mendeskripsikan hujan, bilang suka hujan. Hujan itu rindu, hujan itu tabah. Lalu ada yang nulis puisi hujan. Ada yang sedih, ada yang sedih kali. Tapi banyak yang bilang hujan itu romantis. Kalau saya, jujur tak suka hujan. Dingin soalnya. Dan saya lupa pula bawa jaket. Tapi ngomong-ngomong, nuansa cerah di langit sebelah sana memang cantik sih!” Ia mengarahkan telunjuknya yang membuat lengannya melintang di depan wajahku. “Rasanya ada sesuatu yang turun dari balik awan yang gelapnya minta ampun itu!”

Aku tertawa karena gaya bicaranya. “Kalau pas hujan, memang gampang jadi galau. Bikin teringat sesuatu. Mungkin pacar atau kenangan waktu masih anak-anak,” tanggapku.

“Tapi hujan begini jalanan bisa jadi bahaya!” Pak Sopir menyahut sambil menunjuk ke depan.

Aku dan pemuda berkaus kuning itu lalu memperhatikan pepohonan di pinggir jalan yang bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan karena diombang-ambingkan angin. Angin sore itu sudah seperti badai saja. Angkot bergerak bak merayap. Pak Sopir sendiri terlihat cukup hati-hati menggenggam setirnya. “Kalau napas saya, saya yang tahu. Tapi saya bawa banyak penumpang. Pelan-pelan saja,” katanya.

“Yang penting selamat sampai di tujuan, Pak.” Aku menyemangati beliau meski menyadari semakin lama di mobil itu, semakin basah pula celana dan lengan bajuku.

“Kalau Kakak mau, kita tukaran tempat saja. Enggak enak gitu basah sendiri. Kalau basah, ya basah bareng,” timpal pemuda itu.

Aku merasa ia sudah menggodaku sejak tadi. “Enggak usah,” tolakku sambil tertawa ringan.

“Titi Kuning sudah dekat juga,” balasnya.

“Masih sempat tukaran nomor kok!” celetuk Pak Sopir yang membuat kami serentak tergelak.

Tapi ia tidak melakukannya. Dan entah kenapa aku malah memikirkan itu. Sepertinya tadi aku mendengar ia berkata ada sesuatu di Jogja? Sesuatu atau seseorang? Diam-diam aku merasa malu yang berangsur-angsur membuatku merasa sepi sendiri. Aku tertunduk. Apa yang coba kupikirkan?

Ketika angkot tiba di Titi Kuning, hujan menyisakan gerimis. Aku turun dan membayar ongkos. Sebagai penutup perkenalan kami, laki-laki itu bertanya margaku. Kujawab sambil tersenyum. Dan ia menyebutkan marganya sendiri. Marganya sama dengan Anta. Sesaat aku menerka mereka adalah laki-laki dengan semangat merantau yang sama. Mereka akan meninggalkan apa yang sudah mereka miliki di suatu tempat demi bertaruh di tempat lain—sekabur apa pun hal itu. Kalau pemuda berkaus kuning pulang hanya untuk merantau lagi demi sesuatu di tanah perantauannya, apakah Anta akan melakukan hal yang sama? Pulang hanya untuk pergi lagi?

Angkot tadi sudah menghilang di keramaian jalan Titi Kuning. Baru sesaat membenarkan ranselku, ponselku bergetar. Sambil mendengarkan sebuah kalimat darinya, aku bisa melihat Anta sudah ada di seberang jalan sambil melambai-lambaikan tangan. Berkelebat kendaraan. Ada getir yang langsung menyergap—membuat balasan lambaianku terasa kaku. Mungkin begitulah nanti ia akan melambaikan tangannya saat pergi. Dan mungkin begini jugalah lambaian tanganku ketika harus merelakannya pergi.

Aku ingin lapang dada melepaskannya dan semua janji yang pernah ia ucapkan. Untuk sesaat aku rela malu mengakui ingin lebih lama lagi mengobrol dengan pemuda tadi, atau siapa saja orang asing yang kutemui, dan melupakan seperti apa perpisahan yang akan kuhadapi beberapa hari ke depan. Atau sekadar membiarkan pikiranku lupa bahwa aku begitu berharap Anta tinggal dan tak pernah meninggalkanku sedetik pun.

Anta, kenapa kau memilih menjadi laki-laki yang harus pergi ke tempat asing nun jauh di sana—dan meninggalkan orang yang mengharapkanmu tetap di sini?

Pertanyaan itu larut bersama rintik-rintik. Mengalir di antara celah-celah di jalanan beraspal. Satu per satu ketegaran yang kubangun luruh bersama air hujan yang mulai membasahi kepalaku.—Medan, September 2013

 

05.230916.11.40

 

Advertisements