pertama kali dipublikasikan di situs Kemudian.com, Mei 2015

oleh Christian Barus

untuk Lii: Kapan kau datang? Biar kita manggang ikan :p

 

[L]ata selalu mengatainya bodoh sejak insiden Ligo-Anna terjadi kira-kira sebulan yang lalu. Sebenarnya itu musibah patah hati yang membingungkan: Bagaimana mungkin perasaan Anna bisa berubah seratus delapan puluh derajat terhadap Ligo yang sudah beberapa bulan belakangan menjadi pacarnya. Alasannya sederhana saja: Anna pacaran dengan cacing lain. Lata bilang—dengan tak lupa menertawai Ligo—bahwa cacing yang disukai Anna adalah anaknya Pak Lurah. Si Tela, yang punya motor Ninja. Tapi saya tidak membahas bagaimana Anna bisa berpaling—meski siapa sih yang tidak? Ninja lhooo! Yang kalo dinaikin cewek, pantatnya sengaja dibikin lebih menjorok ke belakang. Biar lebih seksi. Tapi yang namanya urusan hati, siapa yang tahu? Dan bagi Ligo setelah ditinggal kekasihnya tercinta, hari-harinya kini menjadi hampa. Ia jadi sering menyendiri, menggali lebih dalam untuk bersembunyi, meski Lata selalu berhasil menemukannya.

“Kau dicariin Papa tuh!” teriak Lata begitu menemukannya, lagi-lagi, sedang bermuram durja.

“Ada apa?”

“Mana kutahu! Sudah sana! Temuin dulu.”

“Apaan sih? Cacing lagi patah hati aja jugak.”

“Ada juga mau dimaklumin!” Lata tertawa. Begitu Ligo beringsut menggeliat-geliat meninggalkannya, Lata lebih heboh lagi. Sebenarnya, Papa mereka tidak ada memanggilnya.

Namun hari berikutnya, Lata lupa mimpi apa malam sebelumnya.

Ketika matahari-kuning-telur menyala di atas kepala, Ligo berada di atas permukaan tanah. Sedang apa dia? Tubuhnya tidak bergerak. Tampak seperti karet gelang. Namun napasnya tersengal-sengal mirip manusia kena asma. Lata yang mencari-carinya, muncul dari dalam lubang. Lalu membujuk agar Ligo turun ke bawah tanah.

“Biarkan aku sendiri!”

“Nanti dipatok ayam!” Lata mengingatkan.

“Bodo!”

“Kayak anak kecil aja deh!”

Ligo masih tetap tak peduli.

“Masih banyak cacing yang lain….”

“Kau enggak akan bisa mengerti….”

“Oke. Tapi aku tahu bahaya. Semua cacing juga tahu kalau berada di atas permukaan tanah adalah perbuatan bunuh diri!”

“Enggak apa-apa. Percuma juga aku hidup.”

“Hanya karena Anna pacaran lagi, kau sudah mau mati aja? Jadi cacing tuh jangan goblok!”

“Hanya pacaran kau bilang? Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri dia dan Tela bertukar lendir! Argh! Bayangan itu selalu jadi mimpi burukku…”

Lata ingin tertawa. Bertukar lendir segala, pikirnya.

Kini Ligo mendongak ke langit lalu berteriak sekuat yang ia bisa. “Tuhan! Ambillah nyawaku!”

Dan tepat ketika teriakannya hilang ditelan angin, seorang manusia tiba-tiba saja sudah ada di dekatnya. Lalu menjumputnya dari tanah. Lata menggeliat histeris. Terpekik tanpa sadar memanggil papanya. Namun sungguh, Ligo sudah pasrah. Bukannya berusaha menyelamatkan diri (jelas mustahil memang) ia malah mengucapkan selamat tinggal dengan linangan air mata perpisahan ala film-film drama. “Katakan aku sangat mencintainya, Lata. Ini pesan terakhirku!”

“Kau bodoh, bodoh, bodoh, bodooooh! Sudah kubilang jangan ke atas, tetap ke atas kau! Matilah kau dimakan ikan!” Selesai Lata mengumpat, manusia itu juga menjumputnya. Sekarang Lata dua belas kali lebih histeris.

Keduanya lalu dikaitkan pada kail. Ligo dan Lata menjerit kesakitan begitu mata kail menusuk tubuh mereka hingga beberapa kali. Beberapa saat kemudian, plung, Lata tahu ajalnya sudah dekat.

Dingin menyelimuti mereka saat melayang-layang di dalam air.

“Seperti masa lalu,” kata Ligo tanpa ekspresi.

“Ini gara-gara kau! Gara-gara kau! Aku bersumpah kalo nanti terlahir jadi ayam, akan kucabik-cabik tubuhmu per segmen!” kata Lata sambil terus menggeliat.

Namun apalah artinya sumpah seekor cacing?

“Maafkan aku…” ujar Ligo lirih.

“Enggak akan!” bentak Lata.

“Ini satu-satunya cara agar deritaku usai.”

“Bukan urusanku! Bukan aku yang menyuruhmu pacaran sama Anna! Cacing songong begitu juga, di pasar juga banyak!”

“Dia satu-satunya…”

“Pret!”

“Aku juga benci merasakan ini di hatiku!”

“Diam sajalah! Sakit kulitku dengerin kau ngomong!”

Bayangan hitam mendekat. Berkelebat bagai hantu. Kadang muncul di sebelah sini, kadang sebelah situ. Terkadang kau tak sadar ia di sebelahmu. Lalu menghilang lalu muncul di sebelah lainnya lagi.

“Aku belum mau mati!” jerit Lata.

Ligo mendengus: “Ini sudah kodrat kita.”

“Aku masih ingin menikah, hidup bahagia, lalu memiliki anak-anak yang lucu-lucu dan kelak merawatku ketika aku lanjut usia! Aku enggak mau mati konyol jadi umpan!”

Tiba-tiba Lata terdiam. Seperti TV yang di-mute. Di depannya kini, seekor ikan dengan sirip-sirip yang tajam, melototinya (karena ikan memang begitu). Ligo bisa merasakan tubuh Lata gemetar.

“Ayo, makan kami!” teriak Ligo menantang.

Ikan itu berpindah. Dalam sekejap ia sudah di hadapan Ligo: gantian melototinya. Namun ia seperti bingung—atau sedang tidak lapar. Hanya memandangi dua ekor cacing abang-beradik melayang-melayang di hadapannya.

“Kenapa kau diam saja? Ayo makan!” tantang Ligo lagi.

“Mungkin dia enggak lapar,” duga Lata berharap.

“Kalian umpan kan?” Ikan itu akhirnya bicara.

Lata dan Ligo saling pandang. Di mana-mana tidak ada ikan yang tahu umpan. Makanya dari jaman kapan juga, pemancing masih lestari di muka bumi ini. Bangsa ikan masih tidak berpendidikan dan membuat mereka gampang dibodohi dengan cacing. Kasihan. Ligo menyahut, “Bukan! Justru kami adalah menu makan siangmu hari ini. Makanlah kami segera!” yang kemudian dikoreksi Lata: “Jangan percaya! Benar kami umpan. Kalau kau makan, kail akan tersangkut di langit-langit mulutmu. Lalu kau akan ditarik dan terangkat ke udara. Pemancing di atas sana lalu menokok dahimu sampai kau mati dengan punggung pisau.”

“Dari mana kau tahu?” tanya ikan itu.

“Manusia memang begitu keles! Mereka juga akan membelah untuk mengeluarkan isi dalam perutmu. Lalu kau dipanggang di atas bara api atau dipotong-potong jadi beberapa bagian untuk dimasak di kuali!” papar Lata lagi dengan penuh semangat. Ia berpikir bisa mempengaruhi ikan yang ukurannya lima-ekor-sekilo itu.

“Kau yakin?” tanya ikan itu lagi.

“Seratus persen!” sambut Lata.

“Mitosnya memang begitu sih.”

“Mitos apaan! Aku benar-benar pernah ngelihat! Lagian semua cacing juga tahu. Dipelajari juga waktu kami SD sampai SMP. Bangsa kami ditakdirkan menjadi umpan—selain sesungguhnya fungsi kami menggemburkan tanah, kata buku Biologi-ku.”

“Apa buktinya?” tanya ikan.

“Buktinya? Kau kan bisa lihat sendiri!” bentak Lata malah marah-marah. “Nih! Ini mata kail namanya. Tajam. Kau enggak pernah sekolah ya?”

Tentu saja ia pernah bersekolah, meski tak sampai tamat. Maklum, biaya pendidikan masih mahal. Lama ikan itu berpikir atau tampak begitu: membiarkan Lata mengoceh tentang bahaya jika ia memakannya. Ia mencocok-cocokkan penjelasan Lata dengan mitos-mitos soal pemancing yang pernah dibacanya di perpustakaan ataupun yang didengarnya dari ikan yang lain. Diam-diam ia mempertimbangkan peringatan itu. Apakah Lata berkata jujur? Ia menatap wajah lonjongnya, segmen-segmennya: mulai percaya. Namun masih khawatir, ia ingin memastikan bahaya apa sesungguhnya yang menantinya.

“Ya kematianlaaah! Lalu apalagi?” tegas Lata agak kesal.

“Kebetulan!” sahut ikan. “Aku memang berniat mati hari ini.”

Lata kontan melongo; Ligo tersenyum lebar.

Adegan itu terinterupsi gerak lembut dedaunan pepohonan hutan di sekitar kolam sebab sepoi-sepoi belaian sang angin. Beberapa saat kita bisa mendengarkan gemerisik alami yang melenakan itu. Jika saya punya gubuk di sana, dengan lantai papan yang beralaskan tikar pandan, atap daun rumbia, tanpa dinding yang menghalangi angin, saya takkan melanjutkan cerita ini. Sumpah.

“Kau kenapa pula?” tanya Lata setengah penasaran.

“Enggak apa-apa. Cuma ingin mati aja,” kata ikan yang kini mimiknya berubah sendu.

“Selamat datang, teman!” sahut Ligo girang. “Kau pasti korban cinta juga! Aku bisa mencium bau-bau patah hati di sini. Hahahaha!”

“Patah hati kenapa?” Kini Lata satu penasaran.

“Aku mencintai seekor ikan mas—“

“Terus?”

“Itulah masalahnya. Aku ini seekor nila.”

Lata dan Ligo terbahak-bahak. Bagi Ligo mungkin lucu karena kisah cintanya tak setragis ikan ini. Besar sekali jurang di antara seekor Nila dan ikan Mas. Sedangkan bagi Lata, mungkin lucu karena kok bisa-bisanya ia menghadapi dua makhluk yang patah hati dalam satu hari. Sedetik kemudian ia mulai prihatin diam-diam.

“Aku tahu! Semua ikan berkata hal yang sama; bahwa kami enggak mungkin bisa bersatu, bahwa cinta kami terlarang, dan blablabla dan bliblabla. Aku sudah tahu itu!”

“Kalau kau sudah tahu, lalu kenapa kau enggak melupakannya?” tanya Lata tersenyum.

“Sudah kucoba! Tapi ini hanya sepetak kolam. Aku hampir selalu melihatnya—tanpa sengaja. Saat pesta pernikahan Lele Dumbo tiga hari yang lalu, rapat Siskamling, juga pertemuan yang membahas Pesta Tahunan Ikan yang akan diadakan bulan depan—aku selalu melihatnya. Aku enggak sanggup. Kemarin aku sampai di puncak penderitaanku. Maka kuputuskan mengakhiri semua. Hanya saja aku enggak tahu caranya. Saat merasakan getaran air kolam, kuintip kemari, melihat kalian. Mungkin benar kalianlah jawaban penderitaanku.”

“Tepat sekali, Bung!” sahut Ligo. “Lebih baik mati daripada patah hati. Sekarang telan kami agar kail tersangkut di mulut atau kerongkonganmu!” Ligo berusaha bergerak menggapai moncong Nila layaknya berenang—tanpa tangan.

“Tunggu dulu!” cegah Lata menahan berat badannya. “Otakmu kau taruh di mana? Hanya karena cinta lalu mau bunuh diri begitu? Dunia enggak selebar kolam ikan, Bung! Kau bisa melompat ke seberang sana. Ke sungai. Pergilah dan berpetualang. Mungkin akan kautemukan nila lain yang bisa membuatmu melupakan ikan mas itu!”

“Di sungai, bangsa kami dianggap hama!”

“Enggak usah dipikirinlah! Manusia mau bilang ini kek, mau bilang itu kek. Peduli amat!”

“Aku enggak yakin bisa mencintai ikan lain seperti aku mencintainya.”

“Betul itu, bro!” Ligo mengamini.

Lata memandang marah padanya.

Kini Nila sudah memutuskan apa yang akan ia lakukan: telan umpan, meronta-ronta, dan mati. Sementara itu Lata—dalam sempitnya waktu yang menentukan hidup dan matinya—berusaha memohon Nila agar membatalkan keputusan itu.

Namun seperti kata pepatah-perikanan: sekali layar terkembang, surut kita berpantang.

Kail menusuk dan menimbulkan rasa nyeri di mulut Nila. Ah, biasa. Itu belum seberapa dibandingkan luka di hati dan kemelut di pikirannya. Sementara Nila mulai berayun-ayun, berenang ke sana ke mari demi menggoyang-goyangkan pelampung, di dalam rongga mulutnya, Lata dan Ligo berpikir dua hal yang berseberangan. Dari atas, melalui mata faset seekor capung hijau-loreng-hitam, pelampung itu tampak bergerak-gerak membuat garis-garis gelombang di permukaan kolam.

“Selamat tinggal, dunia. Selamat tinggal, Anna. Biarlah kubawa luka ini sampai mati…” lirih suara Ligo masih bisa didengar Lata yang mulai menangis. “Diam kau!” makinya kesal.

Joran pancing itu semakin melengkung, membungkuk seolah akan patah. Namun si Pemancing tak bergerak di atas sana. Matanya terbuka, napasnya pelan, namun saya yakin pikirannya sedang berada tidak pada tempatnya.

“Kalian bohong!” Nila berhenti karena kelelahan. Sudah hampir satu jam ia berayun-ayun dan membuat napasnya tersengal-sengal. Keburu kecewa, ia hendak memuntahkan Ligo dan Lata yang kebingungan. Namun kail sudah tersangkut. Nila meronta-ronta lebih kuat. Tak peduli rasa sakit di dalam mulutnya. Gen yang ia warisi dari nenek moyangnya di sungai Nil sana berbicara. Ia meronta lebih liar. Semakin liar. Semakin sakit. Semakin dekat ia ke dasar kolam, semakin jauh ia dari kematian. Ironis.

Tiba-tiba benang pancing itu putus.

Joran tersentak ke udara.

Seekor tupai tergelincir di dahan pohon.

Hal berikut yang dilakukan Nila adalah setengah mati melepaskan mata kail dari mulutnya. Susah payah akhirnya ia berhasil. “Pendusta! Tempatmu paling dalam di neraka!” teriaknya langsung pada Lata dan Ligo.

Ligo belum sadarkan diri.

Lata menyahut: “Apa yang terjadi?”

“Kau bilang aku akan mati!”

“Seharusnya gitu.”

“Tapi ini enggak!”

“Mana kutahu!”

“I love you, Anna…”

“Argh! Memang cacing enggak bisa dipercaya!”

“Mungkin Pemancingnya ketiduran atau apa. Coba lihat ke atas!”

“Ayo ikut!”

Nila menggigit potongan benang pancing lalu berenang ke atas permukaan. “Lepaskan aku!” ronta Lata. Tubuhnya—dan Ligo yang belum sepenuhnya sadar—dilemparkan Nila ke tanah di pinggir kolam.

“Itu pemancingnya?” tanya Nila memastikan.

Mereka melihatnya: laki-laki yang duduk bersandar pada pohon pisang. “Iya! Dialah yang seharusnya menarikmu lalu membunuhmu!” jawab Lata memastikan.

“Kok enggak mirip pembunuh?” protes Nila.

“Tampangnya aja yang alim. Lagian, buat mereka membunuh binatang enggak termasuk membunuh!” cecar Lata.

Nila memperhatikan lagi tampang manusia itu. Ia jelas tidak mirip dengan penulis meski berkumis dan berjanggut yang kira-kira berumur bulanan. “Dia tidur?”

“Matanya kan terbuka sih!” jawab Lata.

“Oh. Mereka tidur dengan mata tertutup?” balas Nila merasa bodoh. “Hei kau, Manusia!” panggilnya. “Kenapa tidak kautarik pancingmu?”

Pemancing itu tiba-tiba tersentak bagai baru saja rohnya melesat kembali dari khayangan ke dalam tubuhnya. Seperti di film Kera Sakti. Ia mengerjap-ngerjapkan mata. Saat fokusnya kembali pada pancingnya, ia menyadari seekor ikan di pinggir kolam: dekat kakinya yang beralaskan Swallow putih bernomor 10 setengah.

“Kutanya: Kenapa tidak kautarik pancingmu?” Nila mengulangi pertanyaan.

“K-kenapa?” si Pemancing balik bertanya.

“Aku sudah capek bolak-balik berenang agar pelampungmu berguncang! Kenapa enggak kau tarik pancingmu?!” cecar Nila berkacak pinggang. Lata kini tertawa terbahak-bahak. Beberapa ekor capung juga hinggap di pucuk-pucuk lalang, dekat dengan mereka, demi menyaksikan apa yang tengah terjadi.

Pemancing bilang: “Oh!”

“Kau ini bagaimana? Giliran aku mau mati dan rela dipancing, kau malah enggak memperhatikan. Sementara kapan tahu, bangsamu memancingi teman-temanku dan membunuh mereka! Dasar kalian seenaknya saja!” bentak Nila tanpa henti.

“Maafkan aku. Baru kali ini aku memancing.”

“Pantaslah…” celetuk Lata tepok-jidat.

“Kalaupun dapat ikan, aku akan lepaskan lagi kok.”

“Hah?” Nila dan Lata kaget.

Ligo mulai sadar—“Apa kita sudah di surga?”—yang lalu ditempeleng Lata dengan ekornya.

“Kau ini apa-apaan sih?” samar Ligo masih mendengar suara Nila sebelum akhirnya ia pingsan. “Seharusnya kau menangkap dan membunuh ikan yang berhasil kau pancing!”

“Tenang, Nila! Tenangkan dirimu…” kata Lata menengahi.

“Enggak bisa!” bentak Nila melototi Lata.

“Dia udah bilang enggak ingin membunuh ikan.”

“Kalau begitu jangan mancing dong!”

“Aku hanya mengisi waktu, bukan mau membunuh,” jelas Pemancing.

“Kau harus mau!” Nila membentaknya.

“Untuk apa? Aku kan enggak butuh.”

Mendadak Nila melompat ke pinggir kolam. Di sana ia menggelepar-gelepar bagai ayam baru disembelih. Sesungguhnya ia menangis. Tangisannya bisa terdengar telinga Pemancing. Ia merasa sedih ketika Nila meratap: “Apa aku begitu enggak berharganya sampai-sampai enggak dibutuhkan siapapun? Hidup menderita, mati pun enggak bisa!” isaknya tanpa henti. Apa yang sebelumnya dirasakannya diucapkannya semua. Tanpa tersisa. Ia meratap bahwa sudah begitu banyak kenangannya dengan ikan Mas itu, begitu banyak yang mereka lalui (termasuk jalan-jalan berdua mengelilingi kolam tiap malam Minggu). Namun begitu tahu takdir yang melahirkannya sebagai Nila dan kekasihnya ikan Mas, impian yang ia sudah bangun selama ini hancur berkeping-keping.

Pemancing iba. Susah payah ia membujuk Nila agar tenang; Pemancing tidak berani menangkapnya karena siripnya yang bagai duri menegang bisa melukai tangan. Setelah beberapa menit memuaskan diri meracau, akhirnya Nila pun lelah. Tenaganya terkuras. Tubuhnya bertanah-tanah. Kembang-kempis insangnya minta air.

“Apa-apaan kau?” bentak Nila setelah Pemancing mendorongnya dengan kaki ke kolam.

“Aku enggak mungkin diam saja kan?”

“Apa urusanmu! Biarkan aku mati…” Tangisan ini jauh lebih pilu.

Pemancing mendesah berat. Memandang Nila penuh makna: menduga-duga. Lalu tanpa diminta ia pun menceritakan kisahnya: tentang kekasih yang telah lama ia tinggalkan di masa lalu, yang dikabarkan angin telah menikah dengan laki-laki lain. Hatinya terluka namun ia tidak tahu harus bereaksi apa. “Aku pergi memancing disarankan temanku. Katanya ini cara manjur untuk menenangkan pikiran. Tapi aku malah melamun. Menyesali beberapa hal yang enggak akan bisa lagi kuperbaiki. Tadinya aku juga niat bunuh diri juga sih. Tapi aku batalin. Soalnya aku masih punya hutang sama beberapa temanku. Hahahaha.”

Lata menyeret Ligo yang mulai sadar: bergerak ke bagian tanah yang terlindungi bayangan rumput. “Betul! Bayar hutang dulu, baru boleh mati. Hahahaha. Satu hari ini aku terjebak bersama tiga makhluk patah hati.” Lalu diceritakannya juga kisah Ligo dengan Anna. Namun entah bagaimana, bagi Nila dan Pemancing, kisah itu terdengar lucu. Ligo juga terlihat senang. Mungkin hanya ketika mereka mendengarnya dari sudut pandang-yang-berpengalaman.

“Kau enggak tahu bagaimana sakitnya!” sahut Ligo mulai tertawa.

“Memang. Tapi mati? Kupikir enggak deh,” balas Lata mencibir.

“Mudah bicara begitu. Tapi sulit lho!” balas Pemancing.

“Betul!” sahut Nila dan Ligo akur.

“Kau manusia bodoh. Kau ikan bodoh. Dan kau, cacing yang juga bodoh!” katanya. “Ayo, kita pulang saja. Usaha bunuh diri ini gagal total.”

Ligo tersenyum.

“Eh, tunggu. Bagaimana kalau kalian ikut denganku?” cetus Pemancing dengan kedua alis terangkat tinggi.

Nila, Ligo, dan Lata saling pandang.

“Aku bisa bikin tempat untuk kalian.”

“Tapi untuk apa kami ikut denganmu?” tanya Nila.

Si Pemancing tersenyum sambil menarik jorannya dari pinggir kolam. Dipandangnya langit di atas sana. Terbayanglah mungkin wajah kekasihnya yang penulis sendiri tidak tahu namanya. Entah ia merasakan apa, saya juga kurang paham. Namun begitu ia bilang: “Aku butuh teman ngobrol,” dengan tampang berseri, saya tahu sudah saatnya saya membangun gubuk yang seperti saya sebutkan di pertengahan cerita ini. – Lau Rempak, Mei 2015.

 

 

http://www.kemudian.com/node/277627

Advertisements