Sepuluh tahun sejak Edgar Allan Poe meninggal, bayi Arthur Conan Doyle lahir di Skotlandia. Dari tangan dokter ini lahirlah tokoh fiksi Sherlock Holmes, yang kuidolai itu, yang menyebut dirinya sebagai detektif konsultan pertama di dunia. Aku sudah membaca semua kisah Holmes yang ditulis Conan Doyle, berawal dari komik Detektif Conan. Jika harus membuat tokoh fiksi favorit, maka jelas Holmes ada di urutan pertama daftarku. Tapi anggaplah karena aku mungkin belum sepenuhnya boleh berpendapat karena tak banyak tokoh detektif yang sudah kukenal. Misalnya Hercule Poirot-nya Agatha Christie. Buatku sendiri, Holmes ini pribadi yang menyenangkan, meski Conan memosisikannya sebagai sosok nyentrik, dan Watson menuduhnya tidak berperasaan.

Sedangkan Poe sendiri, kukenal sebagai penulis cerita genre horor yang mencekam melalui cerpennya seperti The Black Cat (Kucing Hitam) dan The Tell-Tale Heart (Hati yang Meracau). Penulis yang juga editor sekaligus penyair dan kritikus ini, memang luar biasa “gila” dalam membangun suasana mencekam dan mengerikan melalui narasinya. Heran kok bisa sekuat itu! Kebanyakan karya Poe aku baca dari hasil terjemahan di internet, sampai akhirnya membaca pada sebuah buku yang berjudul The Black Cat and Other Stories terbitannya Noura Books, 2016. Meski tidak menyertakan semua karyanya, bagian yang membuatku menulis catatan di blog ini adalah bagian Kisah-Kisah Detektif.

Ada tiga judul cerita detektif (meski kukira istilah “detektif” sendiri belum digunakan saat itu) dalam bagian itu di buku bersampul kucing hitam ini. Dan setelah membacanya, yang disebut-sebut sebagai fiksi detektif pertama di dunia, aku berpendapat Conan Doyle ternyata sangat memuja karya Poe melalui tokoh fiksinya, Dupin. Latar kehidupan dua tokoh fiksi yang cerdas ini mirip, juga keberadaan naratornya (Conan Doyle menjelma dalam diri Watson, sementara Poe memasukkan dirinya sendiri sebagai teman Dupin). Kukatakan kalau Conan Doyle memuja karya Poe, karena ia tampak mempelajari kisah Dupin lalu mengevaluasinya sedemikian rupa, sampai akhirnya (mungkin) fiksi detektif mendapat tempat di hati pembaca secara umum. Dupin jelas diposisikan Poe sebagai apa yang disebut Watson “bahan menarik untuk mahasiswa hukum dan kriminal”. Aku teringat pada kecenderungan Watson sebagai penulis kisah Holmes, yang selalu mengatakan harus memilah kasus-kasus dalam arsipnya, yang sebisa mungkin menarik minat pembaca dari semua kalangan–hal yang tampaknya belum dipertimbangkan Poe saat memelopori fiksi detektif di dunia literasi. Di sini, aku mengamini pendapat betapa besar jasa Poe bagi cerita-cerita detektif setelah Dupin. Gaya bercerita pada kisah Dupin memang terasa jauh berbeda dengan gaya horor yang lebih kental melekat pada karya-karya Poe yang lain, tapi tetap kuat dengan deskripsinya yang luar biasa mendalam.

Dupin dan kisahnya tampaknya juga menjadi sumber di banyak kasus kriminal dan unik yang diselesaikan Holmes, termasuk unsur-unsurnya. Keberadaan Poe sebagai rekan Dupin, sama seperti peran Watson dalam perjalanan Holmes. Tak hanya unsur-unsur fisik, Holmes-Watson rasanya mengambil banyak karakter Dupin-Poe. Mungkin karena hanya sedikit karya Poe yang mengisahkan mereka yang membuat kemistri di antara keduanya tak sekuat pasangan ciptaan Conan. Namun tak disangkal bahwa merekalah sumber Conan membesarkan namanya sebagai penulis cerita detektif. Maka tak salah rasanya bila ia berkata bahwa Poe adalah “ayah bagi kisah-kisah detektif di dunia”, meski aku sempat mual membaca “jurnal” Poe saat mengisahkan petualangan kecerdasannya bersama pria Prancis itu. 

Setelah membaca buku The Black Cat and Other Stories ini, aku merasa harus menuliskan sebuah catatan di blogku, tentang apa yang kurasakan. Takutnya nanti kelupaan. Namun ini bukan review buku–karena aku tidak melakukannya. Di lain kisah, karena aku ada menyebutkan Poirot, aku belum bisa berpendapat banyak karena tak ada satu pun karya Agatha Christie yang sudah kubaca.

 

Jakarta, 06.151016.03.00

Advertisements