Kau tahu ada jutaan post yang membahas tentang dialog yang bisa kau temukan di internet. Ditulis oleh mereka yang kompeten dan layak. Sedangkan aku cuma menulis catatan harian yang mana beberapa di antaranya kusajikan dalam bentuk cerpen. Kebanyakan hal yang membekas di benakku, dan menyumbang lebih banyak, berasal dari kehidupanku sendiri. Itu bagus dan berbeda. Tapi aku sedang tak ingin membuat tulisan yang rentan dituduh sebagai tutorial. Yang benar saja. Aku cuma sedang ingin ber-dialog. Kau jangan membalas obrolanku, setiap kalimat yang kuucapkan baik pendek atau panjang, dengan bergaya seperti dialog dalam cerpen-cerpen atau novel-novel atau film-film yang kau tonton. Itu tak asyik dan bukan dirimu sendiri. Bukan pula kita yang tinggal di negara ini. Karena bukan karakteristik kita berbicara seperti itu. Parahnya, itu pun mungkin bukan mereka. Kau tahulah. Industri. Doktrin. Tren. Pencitraan. Obrolan kita sangat sederhana, kampungan, dan kemungkinan besar bodoh. Karena kita memang berpikir sederhana, kampungan, dan sebagian besar masih bodoh. Mungkin buatmu tidak, tapi buatku setiap kali aku mendengarmu bicara seperti apa yang kau baca di cerpen-cerpen, novel-novel luar, atau apa yang kau tonton dari film-film luar, membuatku muak dan memandangmu seperti bocah SD yang mudah terpengaruh. Aku berusaha mengatasi hal ini, namun seringkali rasa muakku menyentuh bar jijik. Itu saja.

Maka harus kuakui aku takkan mencapai bar siapa pun dengan sikap seperti ini. Hanya saja, suatu saat kukira, seorang penulis bisa menyampaikan hal ini dalam tulisannya yang dibaca banyak orang, tentang bagaimana kebiasaan unik kita dalam berdialog. Kukira itu saja.

 
07.231016.19:55

Advertisements