Kemarin siang pukul dua lewat lima belas menit, aku menulis entri ini saat sedang duduk di atas rumput. Sebenarnya ada larangan menginjak rumput, yang menurutku itu konyol. Entah siapa yang memulai peraturan taman seperti itu? Dilarang Menginjak Rumput. Kuharap pencetusnya pernah menjalani masa kecilnya sebagai anak petani palawija. Lalu seiring berkembangnya zaman, ia menemukan kenyataan bahwa rumput juga makhluk hidup. Bukan sepenuhnya gulma yang umumnya membuat kesal para petani. Ia menyelesaikan kuliahnya dengan baik, berpartisipasi aktif dalam kegiatan mahasiswa dengan berfokus pada kelestarian alam, lulus dengan nilai bagus, mendapat koneksi, promosi demi promosi, dan berakhir di belakang meja dengan tuntuan pekerjaan menemukan ide-ide pengembangan kota yang ramah lingkungan. Lalu sampailah ia pada kesimpulan rumput bisa ditanam, meski mereka lebih dari itu–memiliki semangat hidup selayak kura-kura–dan berguna demi menciptakan keindahan di tengah-tengah kota sibuk berwarna kuning dan abu-abu begini.

Sambil menulis–yang mana akan kupublikasikan begitu aku terhubung Wi-Fi–aku sampai lupa memperhatikan langit biru Jakarta. Cerah dan membosankan. Sementara di depanku jalanan sibuk dilewati mobil demi mobil. Dan dua orang ibu-ibu sedang bercengkerama lima meter jauhnya dari tempatku duduk. Mereka membahas masalah rumah tangga dan harga diri. “Kalau aku dipungutnya dari jalanan, wajar dia memperlakukanku seperti sampah,” kata satu orang. Teman ngobrolnya lebih banyak hanya mendengarkan. Dari kejauhan kumandang azan mengimbangi keriuhan lalu lintas. Dan rumput di sekitarku, juga pepohonan berdaun rindang yang berayun-ayun diembus angin, menjadi satu-satunya yang terlihat menyegarkan.

Tadinya aku berencana menggambar. Sengaja kubawa buku sketsa dan pensil ke tempat ini. Rautan kupinjam dari Aria. Kukira aku akan menemukan sesuatu di dalam benakku untuk kugambar di kertas kosong. Terkadang aku berpikir itu akan berhasil, meski lebih sering aku malah kehilangan semangat begitu sampai di taman ini. Lantas tertidur atau melakukan hal lainnya. Aku juga membawa sebuah novel karangan Alice Munro–untuk jaga-jaga. Alternatif lain adalah ponsel dengan daya tersisa 86 persen. Ada sekitar 6 judul film yang kusimpan di memori. Aku akan bertahan tanpa sedikit pun kemungkinan mati kebosanan hari ini. Setidaknya sampai jam lima sore.

Setiap kali berada di taman ini, aku berharap pendopo di sebelah sana tidak ditempati pengunjung. Itu tempat yang nyaman untuk melakukan kegiatan membunuh-bosan meski ketika matahari semakin jauh tergelincir ke barat, tempat itu semakin telanjang dan tak terlindungi dari sinar panas dewa Ra. Namun, aku tak selalu beruntung. Ternyata bukan cuma aku yang menganggap pendopo berlantai kayu cokelat itu sebagai tempat menyenangkan. Seringkali seseorang yang sudah ada di sana. Biasanya laki-laki, seorang diri, terbaring dan menikmati tidur siang dengan nyanyian lalu lintas dan embusan angin tanpa henti meninabobokkannya: Hal yang sama yang kurasakan beberapa kali saat tidur di sana. Kali ini pendopo itu sudah “disewa” seseorang. Dia tidur dan aku memutuskan melanggar larangan menginjak rumput taman. Kupikir itulah yang membuatku tergerak menuliskan sesuatu untuk kusimpan di blogku.

Rumput-rumput ini adalah jenis rumput yang dimakan lembu (betapa enak jadi lembu: makan rumput, kenyang). Juga salah satu rumput yang umum dijadikan sebagai kanvas pesepakbola. Axonopus compressus. Omong-omong, aku pernah punya lembu saat aku masih SD. Ia lebih tinggi dariku, betina bernama Rindi. Ibuku membelinya dengan harapan ia akan berkembang biak dan lebih utamanya, aku punya tanggung jawab agar tidak hanya berkeliaran sepulang sekolah. Rindi pernah menginjak kakiku di atas rumput, tapi bukan rumput Axonopus compressus, saat ia entah bagaimana lupa memperhatikan langkah keempat kakinya. Kurasa sulit jadi lembu. Aku saja, dengan hanya dua kaki, masih sering tersandung atau kaget dengan apa yang ada di bawah kakiku. Terkadang aku menginjak gundukan tanah yang sedikit membuatku tersandung. Lain kali aku menginjak lekukan tanah atau trotoar yang membuat isi perutku tersentak. Dan siang ini aku tidak hanya mengabaikan peraturan, tapi juga melecehkannya. Aku duduk di atas rumput terlarang. Mengabaikan papan pengumuman yang berada cuma dua meter di hadapanku.

Kenapa? Aku selalu bertanya-tanya kenapa mereka melarang menginjak rumput. Di seberang taman ini, ada sebuah taman lagi (aku pernah melewatkan malam-malamku menggelandang dengan tidur di area itu di penghujung 2012 yang basah dan dingin). Di sana sedang ada penanaman rumput. Rumput yang sama yang diinjak-injak pesepakbola. Tak lama lagi tempat itu akan memiliki pengumuman Dilarang Menginjak Rumput. Buatku ini menggelikan. Seolah-olah kau bisa memiliki sesuatu, menghindarkannya dari orang lain yang tak kau kenal, dengan menanam rumput-makanan-lembu di atasnya. Katakan saja lembu-lembumu butuh makanan sehat, bergizi dan menyegarkan, bebas serpihan tanah dan pasir dari sepatu-sandal-kaki-telanjang orang lain. Dan para pemakan lembu lebih menghargai ternak yang mendapat makanan layak. Tapi siapa yang menggembalakan lembu di taman-taman di tengah kota, ya? Adakah seekor lembu yang dipelihara di dekat sini? Ini tidak lucu. Semakin lama, semakin banyak area kota yang tak bisa lagi diinjak. Pasti bisa dilewati karena jelas dibuatkan juga jalan di antaranya. Hanya, ini aku aku saja atau memang nyaman duduk atau berbaring di atas rerumputan? Atau kita saja yang malah berlebihan begitu melihat area rumput kosong, lalu mendirikan tenda di sana, membawa meja dan kursi, berjualan makanan dan minuman bagi pengunjung?

Halaman rumah orangtuaku ditanami rumput Jepang. Ada beberapa jenis bunga yang juga ditanam menghiasi halaman depan. Warna-warna alam yang menyenangkan. Aku selalu membayangkan halaman depan dengan rumput Jepang. Lingkungan seperti itu pernah kulihat di rumah tetangga bertahun-tahun yang lalu. Seluruh halamannya ditanami rumput. Luas. Dan tak masalah siapa pun yang menginjaknya. Entah bagaimana, tumbuhan liar itu menjalani hidupnya dengan luar biasa tangguh daripada tanaman lain yang lebih bermanfaat sebagai bahan makanan manusia. Rumput keras kepala seperti gelandangan tua sakit-sakitan di kolong-kolong jembatan. Mungkin cuma racun yang bisa membunuhnya.

Tapi kembali soal rumput, aku tak punya alasan apa pun mempertanyakan keputusan pelarangan penginjakan rumput. Si pembuat kebijakan tentunya bukan anak-anak. Kukira, tepatnya adalah, aku sedang melakukan pengakuan bahwa aku termasuk yang menginjak rumput yang dilarang diinjak manusia. Kalau itu ada hukumnya, kepolisian bisa melacakku dari tulisan ini. Ahahahahaha. Tapi, ya, entahlah, di taman itu, yang mana angin berembus segar (di tengah panasnya kota), berbaring di atas rumput menjadi salah satu hal yang menyenangkan dan menenteramkan. Aku selalu tergoda. Hanya saja aku tak pernah bawa alas. Mungkin aku boleh menginjak atau menduduki rumput. Mungkin kita semua diizinkan, tapi dengan alas seperti tikar atau semacamnya.

 

04.271016.12:16

 

 

Advertisements