Sebuah lagu serial kartun buatan Jepang yang terkenal di tahun 90an. Mojacko namanya. Dia seekor entahlah, alien mungkin. Bentuknya bulat seperti bola bulu berwarna jingga. Dan seingatku dia bisa menyimpan apa saja di dalam mulutnya. Film kartun itu adalah salah satu film yang menemaniku di masa kecil. Setiap kali tayangan itu selesai, aku menunggu sampai lagu penutupnya usai. “Seandainya sahabatku dari luar angkasa”. Begitu suara perempuan yang menyanyikannya. Ketika sudah dewasa, sekian tahun kemudian, akhirnya aku tahu kalau lagu aslinya adalah lagu Jepang berjudul “If My Lover was an Alien”, dinyanyikan Iwao Junko. Sampai sekarang aku masih suka menyenandungkannya.

mojacko
Mojacko

Tapi bukan karena Mojacko atau kenangan masa kecil itu aku menulis ini. Lebih karena aku ingin membuat jelas bagi diriku sendiri tentang suatu hal yang kusuka. Bersama di dalamnya, aku ingin membuat sesuatu sebagai peringatan hari ini. Mungkin kelak, bertahun-tahun dari sekarang, aku akan membacanya lagi, dan menemukan semacam kesan bahagia bahwa aku pernah menulis sesuatu.

Hari ini 3 November, tepat 59 tahun yang lalu, seekor anjing bernama Laika (nama aslinya adalah Kudryavka), melakukan perjalanan yang tak berani dilakukan manusia mana pun kala itu. Tak tanggung-tanggung, dalam misi luar biasa dan penuh ambisi manusia, Laika berangkat ke luar angkasa dengan pesawat ruang angkasa Soviet, Sputnik II. Banyak berita tersebar tentang bagaimana Laika menemui ajalnya di dalam pesawat itu. Aku jadi agak sulit melacaknya. Dan kupikir, tak ada gunanya lebih mempercayai sebuah entri di blog seseorang di belantara internet ini. Bahkan entri di Wiki juga bisa diedit siapa saja. Tapi ada yang bilang Laika cuma bertahan selama beberapa jam selama peluncuran. Ada juga yang menyatakan ia berhasil bertahan selama beberapa hari. Meski begitu, tak ada yang menyatakan dia masih hidup dan selamat kembali ke bumi. Bagiku ini menyedihkan karena Sputnik II, sejak awal memang tidak didesain untuk bisa kembali ke bumi. Jadi para ilmuwan membohongi Laika, si anjing liar yang mereka pungut dari jalanan dengan alasan, ya, mungkin karena takkan ada seekor anjing pun yang bersedih kalau Laika hilang atau mati. Toh dia anjing jalanan, tanpa sanak keluarga, tanpa tuan. Tak mengapa. Namun, alasan utama yang menjadikan Laika terpilih sebagai “tumbal ambisi manusia” kala itu adalah, ia seekor anjing tangguh. Laika punya semangat hidup tinggi dan telah belajar dari kerasnya kehidupan di jalanan. Makanya, di antara tiga kandidat anjing yang dilatih, Laika yang paling memenuhi syarat–yah, karena tumbal sekalipun punya syarat. Kupikir kejam karena Laika tak punya pilihan kan? Dia hanya seekor anjing. Dia tidak tahu kalau Sputnik II tak mungkin kembali ke bumi. Setelah membaca beberapa cerita tentang Laika si anjing astronot, aku memikirkan beberapa hal, yang kemudian kutuliskan di sini sebagai peringatan dan ucapan terima kasih padanya. Laika martir demi ambisi kita. Kematiannya memberikan manusia pemahaman mengenai apa yang dihadapi makhluk hidup di orbit bumi–yang kemudian membuat manusia mengembangkan pengetahuan untuk mengatasinya untuk mengirimkan manusia pertama ke luar angkasa. Penghormatan terhadap Laika kemudian diwujudkan melalui sebuah patung anjing dengan pakaian astronot di Kota Bintang, Rusia.

laika
Laika (Kudrayvka) alias Si Ikal Kecil, adalah anjing pertama yang mengorbit bumi.

Aku suka, secara umum terhadap astronomi–dan perjalanan waktu. Bintang-bintang di langit sana begitu menggoda indahnya, sekaligus mengatakan betapa kerdilnya manusia di sebuah planet bernama bumi ini. Namun, aku harus mengakui bahwa pengetahuan dan pemahamanku tentang alam semesta tidak terlalu membanggakan. Seringkali aku kesulitan hanya sekadar untuk memahami. Maklumlah, otak lemot, kataku pada diriku sendiri. Jika ibuku membaca ini, beliau pasti merasakan ada ironi. Jadi, sebagai peringatan dan ucapan terima kasih pada Laika, aku harus membuat jelas sesuatu hal yang kerap membuatku bingung mengenai luar angkasa. Begitu banyak istilah dan rasa sesal karena aku tak cukup rajin belajar semasa sekolah dulu, membuatku kehilangan pegangan hanya sekadar untuk paham.

Hal yang paling menggugah dalam pikiranku adalah betapa kecilnya manusia di alam semesta. Bumi adalah setitik entahlah yang kalau dilihat dari ujung galaksi saja, bisa dianggap tidak ada. Kalaupun bumi lenyap, sudahlah. Takkan ada makhluk hidup di luar sana yang tahu ataupun terusik. Mereka takkan kehilangan. Mungkin sama seperti pemikiran para ilmuwan sewaktu “menjebak” Laika. Aku jadi membayangkan mereka mengiming-imingi anjing lucu itu dengan “gelar” sebagai binatang pertama yang mengorbit bumi–atau biskuit dan susu panas.

earth-wallpapers-8

Pertanyaan yang terngiang-ngiang di benakku sudah dijawab oleh banyak tulisan ataupun video dokumentar di Youtube. Aku cuma ingin membuatnya jelas bagi diriku sendiri dengan menuliskannya di blog. Pertanyaan itu adalah: di mana posisi planet bumi. Atau kira-kira, bagaimana cara memahami betapa luasnya alam semesta. Namun, aku tak ingin membahas berapa lebarnya, tingginya, panjangnya. Semua bisa kucari di internet dan angka-angka itu akan membuatku pusing tujuh-miliar keturunan–tapi aku tetap tak lebih paham dari sebelumnya. Aku cuma ingin dapat gambarannya. Ukuran pasti itu urusan ilmuwan yang semasa kecilnya jauh lebih rajin belajar daripada aku.

Bumi adalah salah satu dari tujuh planet di dalam sistem tata surya (solar system). Tata surya sendiri merupakan sebuah kesatuan dengan satu atau lebih bintang yang menjadi pusatnya. Matahari adalah pusat Tata Surya dan semua anggota Tata Surya (tujuh planet tadi termasuk bumi) terikat dengan gaya gravitasi matahari dan mengelilinginya sesuai lintasan tertentu. Jadi, sebuah kumpulan akan disebut kumpulan kalau semuanya berpusat atau terikat pada gaya gravitasi pusatnya. Tata Surya punya pusat bernama Matahari. Ini ibarat ibukota sebuah negara. Pada dasarnya sistem ini akan terus berlaku ke skala yang lebih besar. Bahkan sebaliknya, atom.

Ilustrasi Tata Surya dari http://www.pbs.org/wgbh/nova/space/tour-solar-system.html
Ilustrasi Tata Surya dari http://www.pbs.org/wgbh/nova/space/tour-solar-system.html

Disebut sebagai bintang karena Matahari memancarkan cahaya dari reaksi fusi nuklir di dalam intinya. Di alam semesta, bila kupandangi di langit, terdapat banyak bintang. Bintang-bintang itu sama halnya seperti Matahari yang muncul tiap pagi di Bumi. Jadi, kemungkinan besar juga terdapat planet-planet yang mengelilingi bintangnya masing-masing di luar sana. Bintang-bintang selain Matahari, beberapa di antaranya adalah Alpha Centauri, Sirius, Pollux, Antares, Aldebaran, dan lainnya. Mereka adalah tetangga Tata Surya. Namun, tidak semua bintang punya planet yang mengelilinginya. Setidaknya peneliti menemukan beberapa bintang ternyata tidak memiliki planet. Atau memang belum terlihat saja. Pollux, pada 16 Juni 2006, dinyatakan punya planet. Lalu Alpha Centauri, adalah “sebuah kecamatan dengan tiga ibukota”. Ada tiga bintang di sana, salah satunya bernama Proxima Centauri. Bintang ini memiliki planet yang disebut Proxima b. Planet itu pernah terkenal, sampai sekarang, sebagai salah satu planet yang disebut layak huni. Jadi, kalau kita singgah di planet Proxima b, di langitnya ada 3 matahari, yakni Alpha Centauri A, Alpha Centauri B, dan Proxima Centauri.

image
Ilustrasi planet Proxima b dalam sistem planet Proxima Centauri (Alpha Centauri).

Jika diibaratkan Bumi sebagai sebuah desa, maka Tata Surya (solar system) adalah kecamatan tempat desa Bumi berada. Seandainya seorang alien ingin mengirimiku surat, dia harus menuliskan alamat alamatku seperti ini:

Kepada Ian

di desa Bumi, kecamatan Tata Surya.

Kabupatennya tidak ada. Kemungkinan besar surat itu tidak akan sampai di Bumi karena alamatnya kurang lengkap. Maka aku harus cari tahu di kabupaten mana Tata Surya ini berada. Biar Pak Pos Alam Semesta bisa mengantarkan surat itu tepat ke alamatku. Dan Tata Surya, bersama bintang lainnya, ternyata merupakan bagian dari sebuah galaksi. Galaksi inilah yang bisa kuandaikan sebagai kabupaten di mana planet Bumi berada. Namanya adalah galaksi Bima Sakti (Milky Way). Bima Sakti memiliki kira-kira 200-400 miliar bintang. Artinya ada sebanyak itu jumlah kecamatan dalam kabupaten Bima Sakti. Banyak sekali! Ada begitu banyak Matahari! Ada begitu banyak bintang! Ada begitu banyak sistem planet yang mengelilinginya juga. Ratusan miliar bintang itu terikat gaya gravitasi pusat Bima Sakti, yakni sebuah Lubang Hitam bernama Sagitarius A. Sekarang aku sudah punya alamat yang lebih lengkap. Teman alienku itu harus menuliskan galaksi Bima Sakti sebagai kabupatenku agar Pak Pos Alam Semesta tidak salah alamat: karena Galaksi Bima Sakti bukan satu-satunya kabupaten di alam semesta. Ada 100-200 miliar galaksi lain yang tersebar dekat dan jauh. Sampai saat ini ada sekitar 50 di antaranya sudah ditemukan dan diberi nama: Galaksi Andromeda, NGC 123, Cartwheel, Bode, Sombredo, Triangulum, Black Eye, Centaurus A, Whirlpool, dll.

Galaksi Bima Sakti (Milky Way) dari http://thenextweb.com/google/2012/11/14/100000-stars-googles-latest-chrome-experiment-taps-nasa-to-visually-explore-the-milky-way/
Galaksi Bima Sakti (Milky Way) dari http://thenextweb.com/google/2012/11/14/100000-stars-googles-latest-chrome-experiment-taps-nasa-to-visually-explore-the-milky-way/

Sekarang, teman alienku akan menulis alamatku sebagai berikut:

Kepada Ian,

di desa Bumi, kecamatan Tata Surya, kabupaten Bima Sakti.

Dengan begitu, surat tak akan nyasar ke kabupaten (galaksi) Andromeda. Aku sudah bisa duduk-duduk santai, mengopi, dan membayangkan suratnya akan segera datang. Tapi rasanya itu pun belum cukup lengkap. Biasanya setelah kabupaten ada provinsi. Karena kabupaten adalah bagian dari sebuah provinsi kan? Maka, lebih baik dibuat selengkap-lengkapnya. Galaksi-galaksi yang berdekatan pun dikelompokkan ke dalam grup atau gugus (cluster). Galaksi Bima Sakti berada dalam gugus Lokal Grup (atau Galaksi Lokal) bersama 25 galaksi lainnya. Inilah yang bisa disebut sebagai provinsi tadi. Maka, alamatku seharusnya juga menyertakan Grup Lokal, sebab provinsi atau gugus galaksi ini juga tidak hanya ada satu. Gugus galaksi lainnya adalah gugus Virgo (2500 galaksi di dalamnya). Lalu ada gugus Coma (1000 galaksi), dll. Capek menghitungnya.

Maka, suratku itu kini bisa dialamatku sebagai berikut:

Kepada Ian

di desa Bumi, kecamatan Tata Surya, kabupaten Bima Sakti, provinsi Grup Lokal.

Selesai. Huft. Tampaknya takkan bisa salah alamat. Aku pasti akan mendapatkan setiap surat yang dikirimkan teman alienku itu atau oleh siapa pun di luar sana. Aku sedang menunggunya, btw. Namun, aku mulai sedikit ragu. Jika baru sebatas provinsi, bisa saja Pak Pos Alam Semesta sedikit kewalahan menemukan provinsi Grup Lokal atau gugus Galaksi Lokal. Karena, pada tahun 2014, para peneliti telah menemukan bahwa gugus ini merupakan bagian kecil dari sebuah kesatuan yang jauh lebih luas. Mereka menyebutnya sebagai supercluster atau supergugus galaksi. Wow! Dan gugus Galaksi Lokal berada di dalam supergugus galaksi Laniakea. Supercluster Laniakea! Oh, Man! Aku harus revisi alamat tempatku tinggal agar surat-surat untukku tidak akan salah alamat. Soalnya, supercluser galaksi ini ternyata tidak cuma ada satu. Supergugus galaksi Laniakea punya tetangga yang bernama supergugus Galaksi Perseus-Pisces, supergugus galaksi Shapley, dan supergugus galaksi Coma. Masing-masing memiliki pusat masing-masing yang bernama Penarik Besar. Kalau begitu, kusebut sajalah Laniakea seperti sebuah negara bagian, karena aku belum tahu kalau nantinya ternyata Laniakea juga merupakan bagian dari sesuatu yang lebih besar lagi.

Nah, kini alamatku menjadi sangat lengkap. Teman-teman alienku bisa mengirimkan surat ke alamat di bawah ini:

Kepada Ian:

di desa Bumi, kecamatan Tata Surya, kabupaten Bima Sakti, provinsi Grup Lokal

negara bagian Laniakea.

Supercluster Laniakea menjadi kumpulan terakhir yang bisa diteliti sampai detik ini. Pemahamanku tentang itu sangat dibantu oleh banyak tulisan dan video-video dokumenter di Youtube. Beberapa harus kutampilkan di sini, sebagai penunjuk jalan semisal suatu kali aku tersesat.

 

 

Sampai di sini, kukira aku berhasil membuat diriku paham tentang gambaran alam semesta. Kupikir penting buatku tahu soal struktur tersebut, melebihi istilah-istilahnya. Karena istilah bisa berubah di beberapa tempat, dan hal itu entah bagaimana seringkali membingungkanku. Lagi pula, kurasa lebih tepat rasanya memahami konsepnya lebih dulu–atau konsep saja juga tak masalah. Aku punya pilihan dan membuat pengandaian desa, kecamatan, dan sebagainya itu, karena beginilah tingkat kecerdasan yang kupunya.

Pada akhirnya, aku ingin sedikit melucu dipicu sebuah kisah tentang seseorang yang merasa dirinya sebagai segalanya bagi kekasihnya. Oh, man. Ada miliaran kecamatan di kabupaten Bima Sakti? Dan kau masih merasa kaulah segalanya? Piw. Namun, tentu saja seseorang yang berarti bagimu adalah segalanya. Karena kalau bukan segalanya, berarti tak berarti. -TanjungDuren, 04.031116.15.24

 

 

 

 

 

Advertisements