The Thirteenth Floor (1999)
The Thirteenth Floor (1999)

Film sci-fi berjudul The Thirteenth Floor (1999) menjadi film ke-800 yang kuberi rating di situs imdb.com. Ini berarti sesuatu buatku, bahwa sepanjang ingatanku, aku telah menonton film sebanyak itu. 800 judul film. Dan kenyataannya pasti lebih banyak dari itu, karena terkadang ketika melakukan kegiatan sehari-hari, aku teringat film yang pernah kutonton di masa lalu. Lalu aku mencarinya di imdb dan menemukan bahwa film itu belum kuberi rating: bahwa aku pernah menontonnya. Seperti beberapa waktu sebelum menonton The Thirteenth Floor ini, aku lebih dulu melihat The Fugitive (1993) yang dibintangi Harrison Ford (13 Juli 1942). Lantas aku sadar, aku sudah pernah menonton itu. See? Database berdasarkan aliran listrik ini, jelas lebih bisa diandalkan dari ingatan manusia yang alami. Dan aku juga belum me-rating film-film India dan Cina, misalnya. Oh, masa kecilku pasti selalu film India, karena itulah yang ditayangkan di TV pada masa itu. Aku tahu siapa Govinda (21 Desember 1963), atau Sunil Shetty (11 Agustus 1961), tapi tidak satu pun filmnya yang berhasil kuidentifikasi judulnya. Kupilih tidak memikirkannya lagi.

Aku suka menonton film seperti kebanyakan orang di dunia ini. Kebiasaan ini mungkin dipicu ayahku. Entahlah kenapa aku menyimpulkan demikian meski tak pernah sekalipun beliau menganjurkanku menonton TV semasa kecil. Genre favoritku adalah drama-komedi. Aku ingat Martin Lawrence (16 April 1965) dan Owen Wilson (18 Nopember 1968). Aku ingat betul film Armageddon (1998) ketika tayang di TV. Lalu aku membeli CD aslinya dulu ketika kuliah (satu-satunya film yang kubeli CD aslinya). Aku sudah menontonnya berkali-kali. Mungkin sudah puluhan kali. Dari film itu aku “kenal” aktor-aktor yang kelak menjadi aktor favoritku. Selanjutnya mudah bagiku mencari dan menonton film-film yang mereka bintangi. Tapi sepertinya aku tak pernah begitu mengidolakan satu genre saja. Sci-fi adalah suatu hal, dan itu selalu menarik dan menyegarkan pikiran. Sementara aksi, siapa yang tak suka aksi?

Memang, aku tak pernah membuat review tentang film. Orang-orang terdekatku pasti tahu kalau aku suka menceritakan ulang film yang sudah kutonton. Dan kupikir itu hal yang menyenangkan bisa bertukar cerita dengan temanmu yang juga suka film. Di situs imdb, aku cuma memberikan nilai, yang tentunya sesuai seleraku. Karena awam, aku tak pernah yakin akan membuat review. Untuk film ke-800-ku itu pun, aku cuma bisa memberi nilai (aku beri 9!) tanpa ulasan berarti tentangnya. Omong-omong soal 800, jika dirata-ratakan satu film berdurasi dua jam, maka aku telah menghabiskan 1.600 jam untuk menonton film. Kebanyakan film kutonton di komputer. (Oh, memalukan sekali). Lalu di TV dan bioskop. Yah, seribu enam ratus jam. Seribu enam ratus jam ini kira-kira 67 hari. Nonstop. Aku tak tahu kenapa aku menulis entri se-tak jelas ini. Mungkin karena aku sedang mempersiapkan tulisan yang lebih tak jelas lagi beberapa hari ke depan. Jadi, sesuatu semacam pengantar.

Intinya, begitu saja. Hari ini, 5 Nopember 2016, aku menyelesaikan 800 film dalam hidupku. Aku tak sabar menanti film yang ke-1000. Semoga itu akan jadi film yang luar biasa. Dan aku masih cukup sehat untuk menontonnya 😉

 

 

 

Advertisements