Memasuki pertengahan Nopember, yang nantinya akan berakhir dengan peringatan ulang tahun adikku, hujan semakin sering membasahi ibukota. Sepertinya begitulah sewajarnya siklus yang dialami banyak negara tropis, setahuku. Hujan tak lagi datang hanya menjelang petang, namun beberapa kali sudah turun ketika hari baru beranjak siang. Semakin dingin cuacanya, semakin tak nyaman aku di dalam kereta. Tanpa hujan pun, aku sudah kedinginan di dalam sana, ketika malam hari pulang dari Tangerang menuju Grogol. Aku akan menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku, lalu menempelkannya ke pipi atau lengan dan tangan yang sudah seperti sepetak lahan yang baru ditumbuhi tunas-tunas padi.

Hari ini seperti biasa hariku benar-benar tak produktif seperti hampir tiga bulan belakangan. Aku hanya menonton film: memberi rating di situs. Bahkan aku tak sanggup melanjutkan ide cerita yang ingin kujadikan novel. Harapan satu-satunya agar bisa dapat uang. Sore harinya aku berjalan kaki ke stasiun Grogol diiringi rintik hujan sisa hujan lebat sebelumnya. Malam harinya, usai Aria pamit di gate stasiun Tangerang, aku mencoba mengusir dingin dalam perjalanan pulang. Aku memikirkan bapakku.

Seharian ini aku memang memikirkannya. Bayang wajahnya semakin jelas dan aku tak tahu apa penyebabnya. Namun, aku rasa karena hujan. Dalam ingatanku kali ini, bapakku muncul dalam satu peristiwa tahun lalu ketika kami berdua dalam permasalahan motor mogok. Sempat tertidur sesaat di dalam kereta, ingatan itu masih jelas di benakku. Aku malah membayangkan sedang berada dalam sebuah ruang kerja seorang terapis. Di hadapanku seorang wanita separuh baya sedang duduk dengan wajah serius sekaligus prihatin. Memandangku seolah menyelami ingatanku melalui mata. Kukatakan padanya aku mengingat bapakku lebih dari sewajarnya hari ini. Entah bagaimana ingatan ini membuat perasaanku lebih dari sekadar mendung. Cuaca di balik jendela kaca menunjukkan hari yang buruk untuk memandang bulan. Terapisku menulis beberapa hal di bukunya sambil terus menanyakan detil peristiwa yang kualami dengan bapakku.

Sebenarnya itu bukan peristiwa hebat. Kukatakan padanya, suatu kali motor yang kukendarai mogok di tengah jalan. Aku terpaksa menelepon bapakku untuk meminta pertolongan karena saat itu sudah menjelang malam dan bengkel di mana-mana sudah tutup. Bapakku datang dan ia membantuku menarik motor tadi. Sambil berkendara pelan dengan motornya, tali terentang di antara kami. Perjalanan singkat menuju kampung berikutnya terasa sangat panjang dan sulit. Namun, kami berhasil tiba di sebuah bengkel kecil. Motorku diperiksa dan diputuskan bahwa pihak bengkel tak mampu mengatasinya. 

Keesokan harinya bapakku dan aku harus membawa motor itu ke kota terdekat, ke bengkel resmi. Jaraknya yang cukup jauh sudah membuatku kesal. Belum lagi karena sebenarnya motor mogok yang kupakai itu adalah motor sepupuku, yang dipinjam bapakku, dan ia memakai sementara motorku karena miliknya baru saja dicuri, tapi juga masalah itu sudah menyita waktu. Benar-benar tak nyaman dan menjengkelkan. Maka kami berangkat pagi hari. Bapakku menarik motorku dengan tali kemarin. Aku sempat terjatuh dua kali dan semakin membuat darahku mendidih. Sedangkan bapakku tetap tanpa ekspresi sampai kami bertukar posisi. Aku yang menariknya di atas motor mogok itu. Kami tiba di bengkel resmi. Para montir itu mengobrol dengan bapakku sementara aku memilih melihat-lihat motor baru yang dipamerkan di showroom. Proses perbaikan motor itu tak begitu lama dan bapakku memutuskan pulang lebih dulu karena masih ada urusan pekerjaan.
Sekonyong-konyong aku mendengar terapisku menanyakan beberapa pertanyaan. Semuanya seputar detil yang bagiku malah terdengar konyol. Ia bertanya apakah hari itu cukup cerah, busana yang aku dan bapakku pakai, apakah ada burung-burung yang berkicau, dan bagaimana tidurku malam sebelumnya. Aku berimajinasi. Kubayangkan sebaiknya bagaimana hari itu terjadi. Aku ingin hari itu kuingat dengan langit cerah dengan sedikit awan di langit biru, burung-burung berkicau sepanjang perjalanan, bapakku memakai busana PNS dengan jaket hitam bonus membeli motorku setahun sebelumnya, sepatunya mengilap, tas kerjanya menggembung. Rambutnya tersisir rapi. Sementara aku mengenakan kaus dan jaket yang kubeli sendiri, sepatu Tomkins butut berumur dua tahun, memasang wajah masam karena sangat kesal kenapa motor pinjaman itu harus mogok: Kenapa motor tua bapakku harus dicuri dari halaman rumah kami. Aku juga ingin peristiwa itu kukenang dengan lanskap sempurna. Jalanan lengang, orang-orang bertanya apakah kami butuh bantuan, tanpa debu jalan, tanpa terjatuh di aspal, tanpa mimik datar bapakku menanggapi kekesalanku.

Aku ingin menangis saat mengenangnya sekarang. Di bengkel itu bapakku mengobrol dengan para montir berseragam dengan ekspresi seperti tak terjadi apa-apa. Senyumnya merekah menampakkan barisan giginya yang tak diturunkannya padaku. Ia menceritakan kronologisnya, bertanya penyebab dan solusi terbaik. Dan biaya perbaikan. Aku tak berkata apa-apa seperti aku yang ia kenal. Aku malah menghindar. Saat ini, di depan terapisku aku tertunduk. Malu. Entah kenapa senyuman bapakku waktu itu membuatku tak berdaya selain kini malah lebih merindukannya lagi. Tapi aku tahu aku takkan bisa mengungkapkannya. Rasanya takkan pernah bisa, kataku pada wanita ini. Bapakku pun pamit meninggalkanku untuk mengurus pekerjaannya. Meninggalkanku meratap di masa berbeda, mengagumi ketenangan yang ia dapatkan dari pengalaman hidupnya. Aku tak tahu, kataku pada terapisku, kenapa aku merasa buruk sekali. Sepertinya aku sudah melakukan kesalahan besar. Mungkin alasan aku ingin membayangkannya sebagai hari yang cerah karena aku merasa sudah tak berperasaan saat itu. Sementara satu-satunya yang tetap menjadi dirinya sendiri adalah bapakku. Aku ingin menangis tapi meski begitu, aku tak tahu persis kenapa aku ingin menangis. Mungkin aku ingin bilang pada bapakku, bahwa aku menyesal tak bisa sehebat dirinya. Tak akan pernah menyamai ketabahannya. 

Di pertengahan Nopember ketika hujan sering turun melanda ibukota, aku memikirkan peristiwa itu. Sosok bapakku dan senyum cerianya ketika mengobrol dengan montir berseragam. Sementara aku merutuk kesal. Marah pada hidupku yang berakhir dengan motor mogok suatu sore. Di luar kereta, rintik hujan masih belum berhenti. Aku pamit pada terapisku ketika pengeras suara berkata kereta sudah sampai di Grogol. Aku bangkit melawan dingin tapi ingin menyendiri. Berjalan keluar dari stasiun, menyusuri jalan sejauh tiga kilometer. Aku sendirian, berjalan dengan sebatang rokok di tangan dan dingin malam menyelimuti ibukota. Mungkin satu-satunya teman adalah penyesalan yang memenuhi rongga dadaku seperti air hujan menggenangi jalanan. 
Tanjung Duren, 02.151116.21.53

Advertisements