Christopher Whitelaw Pine, menurut page-nya di situs imdb, lahir pada 26 Agustus 1980. Aktor satu ini mungkin meraih ketenarannya setelah menjadi aktor utama dalam film petualangan luar angkasa Star Trek (2009). Sampai saat ini, ia sudah dua kali memerankan Kirk dalam tiga seri Star Trek itu. Melambungkan namanya, tentu saja, mengingat Star Trek adalah film “legendaris” yang sudah memulai debutnya di layar lebar sejak tahun 1979. Star Trek sendiri, sebagai informasi singkat, diangkat ke layar lebar dari serial yang sudah tayang di TV pada tahun 1966.

Perkenalan pertamaku dengan Chris Pine terjadi pada film thriller berjudul Unstoppable (2010). Dia berperan sebagai Will. Namun, aku menonton film itu (kusewa CD-nya di tempat penyewaan dekat kosku di Medan), bukan karena sosok Chris Pine yang kata Aria ganteng itu. Aku menontonnya karena film itu membawa nama besar Denzel Washington. Anyway, sejak film bertema kereta api “tak terkendali” itu, aku jadi mengikuti beberapa film yang dibintangi Chris Pine seperti: Star Trek (2009), This Mean War (2012), Star Trek Into Darkness (2013), Into the Woods (2014), Finest Hours (2016), Hell or High Water (2016), dan Star Trek Beyond (2016). Dari sedikit jumlah filmnya, aku baru terkesan dengan aksinya sebagai Toby Howard di film Hell or High Water. Karena itulah aku menulis entri ini.

1b2cdf1d2e206daebc0e31dae1075c1e
Christopher Whitelaw Pine, 26 Agustus 1980

Sebelumnya, film ini rilis tahun 2016. Sampai saat aku menulisnya, film ini mendapatkan rating 7,9 di imdb, 88 metascore di metacritic, dan 98% di rottentomatoes. Betapa tingginya! Buatku sendiri, aku memberinya 8 karena cerita film ini sendiri. Aku menonton film ini setelah kecewa dengan film Chris Pine lainnya di tahun yang sama, The Finest Hours. Sulit bicara akting sebagai awam, tapi film itu sudah membuatku muak lebih dulu karena aksi tokoh Miriam Webber yang diperankan oleh Holliday Grainger. Kurasa kekecewaanku lebih tepat diarahkan pada sutradaranya. Dasar film sok dramatis, umpatku. Aku masih ingat benciku tadi saat menontonnya. Sumpah. Tapi beda dengan Hell or High Water ini. Aku sangat suka dengan akting Chris Pine. Dan sama sekali tak menyangka kalau dia akan berduet lagi dengan Ben Foster, seperti di The Finest Hours itu. Maksudku, di dua film itu, mereka berpasangan. Berteman. Dan itu terjadi di dua film dalam tahun yang sama. Rasanya, semacam menemukan “partner” atau lawan main yang serasi saja begitu. Kalau Ben Foster, aku juga sudah menonton beberapa filmnya. Kesukaanku adalah saat ia berperan dalam Here (2011) dan The Mechanic (2011). Ia nyata berandalannya saat duet dengan Jason Statham itu.

ben-foster-net-worth
Benjamin A. Foster, 29 Oktober 1980

Film Hell or High Water itu sendiri berkisah tentang dua saudara, Toby dan Tanner, yang merampok beberapa bank. Petualangan mereka coba dihentikan “Ranger” atau polisi setempat yang diperankan Jeff Bridges. Film yang berlabel drama-crime ini, layaknya seperti cerpen yang dianjurkan banyak penulis terkenal: sebisa mungkin awali ceritamu sedekat mungkin dengan klimaks. Ya, film ini langsung menarik perhatian penonton di menit-menit awal: perampokan bank di pagi hari. Jadi, untuk penonton yang hanya menonton film berdasarkan genre di tempat pertama alias tanpa baca sana-sini sebagai rekomendasi, Hell or High Water sudah berhasil menjejakkan satu kaki mereka di benak penonton di menit-menit pertama. Itu membuat rasa penasaran. Dan akhirnya melek sampai akhir. Apik! Satu hal utama yang menurutku berhasil dalam film ini adalah chemistry antara Chris Pine dan Ben Foster. Tanpa embel-embel dramatis, sutradaranya cukup menampilkan sedikit scene “halus” untuk menunjukkan kedekatan dua bersaudara ini, selain kerjasama mereka saat merampok. Akting yang tak banyak omong dan langsung itu yang membuat hubungan mereka terasa akrab. Bromance, istilah orang-orang. Unsur tersebut yang membuatku punya poin utama menulis “semacam” review film ini. Dan tentu saja, bromance itu takkan muncul di benakku jika bukan akting Chris Pine. Aku harus mengakui bahwa dari sedikit filmnya yang kutonton, ini adalah film terbaiknya. Penampilan terbaiknya. Kuharap suatu saat kelak, setidaknya aktor ini bisa dapat nominasi Oscar. Katanya, dapat nominasi saja sudah hebat, apalagi menang.

Mungkin film ini akan berlaga dengan film-film lainnya untuk Oscar 2016. Kalau tidak, rasanya sayang sekali. Chris Pine tak punya “amunisi” lain untuk pagelaran akbar itu tahun ini. The Finest Hours takkan bisa berkata apa-apa. Star Trek? Ah, film semodel itu rasanya sulit sekali mengantarkan para pemainnya ke nominasi bergengsi. Namun, siapa yang tahu? Beberapa acara kan bisa saja berkubang konspirasi? Ahak hak hak. Yap, pada akhirnya begini sajalah tulisanku kali ini. Cukup senang dan puas setelah menonton Hell or High Water. Kuberi 8 di imdb. Kuberi satu entri di blogku. Chris Pine harusnya bangga sudah ada di blog pribadiku #plak! Mungkin, aku akan menonton beberapa filmnya yang lama dan menanti bisa apa lagi dia di tahun-tahun mendatang.

 

TanjungDuren, 07.171116.03.12

 

Advertisements