Pada kunjungan keduaku ke terapisku di gubuknya yang tenang dan terpencil dari keramaian duniawi, aku menanyakan pertanyaan yang tak bisa kupastikan sudah atau belum pernah kutanyakan pada orang lain. Malam ini sudah cukup larut, beberapa menit menjelang pergantian hari. Terapisku yang cantik dan menawan duduk di kursi empuknya sambil mengenakan pakaian tidur yang hangat. Di sebelahnya, di satu sudut gubuknya yang sebenarnya lebih mirip sebuah rumah peristirahatan ini, sebuah perapian menyala tidak hanya sebagai sumber kehangatan di malam sepi itu, tetapi juga sumber cahaya. Terapisku yang tak menikah juga menyalakan lampu minyak dan menggantungkannya di dinding lain, dan sebuah lilin dengan ornamen penyokongnya berdiri di atas meja kecil yang khusus dibeli untuk lilin itu sendiri. Ia sempat berkelakar, situasi malam dengan cahaya langsung dari api itu adalah wujud situasi untuk mendukung proses konsultasiku sebagai pasiennya yang setia. Selain juga, hemat energi.

Terapisku takkan lagi menulis pada bukunya yang tebal setelah waktu konsultasiku mencapai angka 10 di jam dindingnya. Ia kini lebih mirip seorang teman lama yang mengetahui cukup banyak tentang kehidupanku, sementara aku tak tahu banyak tentang kehidupannya. Aku menanyakan apa ketakutan terbesar dalam hidupnya. 

“Aku takut ular,” katanya begitu harfiah sambil tersenyum. “Jenis binatang itu telah merasuk ke dalam pikiranku sejak aku mengenal dunia satwa, sebagai binatang menjijikkan dan menakutkan,” katanya.

“Kau tahu kan kalau itu tak relevan? Kau bisa saja menganggap kelinci yang jadi binatang paling menakutkan jika sejak kecil kau diajarkan menakutinya,” balasku.

Ia mengangguk. “Lain dari itu, aku takut sendirian,” lanjutnya lagi.

“Dan kau malah tak masuk akal. Kenapa kau tinggal sendiri kalau kau takut sendirian?” tanyaku keheranan.

“Ayolah, Pak. Aku terapismu dan kau pasienku. Seharusnya aku yang menanyaimu. Kenapa kau tanyakan soal ini?” katanya sambil menyandarkan punggungnya, membuatnya lebih nyaman.

“Aku punya ketakutan.”

“Kau takut apa?”

“Mati. Aku takut mati. Sangat takut mati.”

Terapisku mengangguk-angguk. Lalu bertanya: “Kau takut rasa sakit saat nyawamu ditarik dari ubun-ubun atau melalui ujung jari-jarimu?”

“Apa memang begitu proses sebuah kematian?” 

Ia menggeleng. “Kau pendosa, Pak. Kudengar, orang berdosa akan mengalami kematian dengan proses menyakitkan. Sementara itu, orang suci mendapatkan kemudahan seperti dijemput dengan kereta kuda lalu dibawa malaikat berwajah menyenangkan melewati jembatan pelangi menuju surga.”

Aku pernah menonton deksripsi itu dari film. Mungkin sebuah gabungan dari beberapa film yang tak kuingat persis. Roh manusia berjalan di atas awan-awan, mereka berjalan menuju sebuah pintu gerbang berukir dan berlapis emas. Ukiran itu akan selalu bergantung dari kebudayaan mana yang membuat konsep kematian tersebut. 

“Tapi, semua juga tahu kalau itu sebatas dongeng untuk anak-anak. Hanya agar mereka berperilaku baik,” kataku. “Apa yang kukatakan padamu adalah aku takut hidupku berakhir di kehidupan ini. Waktuku habis dan aku terpaksa pergi atau hilang begitu saja.”

“Tak heran manusia pendahulu kita berusaha mencari jalan keabadian. Kau juga harus coba. Menulislah,” sarannya sambil tersenyum bersahabat.

“Bagiku itu sebuah kesia-siaan. Manusia memilihnya karena mereka tak mampu menemukan solusi tepat. Aku yakin, kalau mereka tahu caranya hidup abadi, mereka takkan mau repot-repot menulis, lalu literatur menjadi sebesar seperti sekarang.”

“Menurutku, mereka tak menyadari itu di awalnya. Lalu, pemikiran mereka berkembang. Dan, bum, ternyata menulis adalah tindakan mengabadikan diri. Pesan bagi manusia di masa depan.”

“Aku setuju. Namun, apa yang ingin kukatakan adalah betapa semua ini percuma. Kau menjalani hidup sampai umur 60-80 tahun, lalu kau mati. Hilang dari apa pun. Semua hal yang ada dalam pikiranmu takkan ada lagi artinya.”

Ya, aku memikirkan tentang kematian dalam beberapa fase hidupku. Aku mengalami ketakutan itu beberapa kali, setiap aku memikirkannya. Bahwa aku akan mati suatu hari nanti dan semua yang telah kurasakan akan hilang. Tak bisa lagi kurasakan. Lantas, aku merasa percuma, kosong, dan marah. Untuk apa aku merasakan berjuta hal dalam hidup ini, mengalami banyak hal selama aku hidup, memikirkan banyak hal yang memenuhi kepalaku, kalau kelak semuanya akan hilang tanpa bekas? Hidup mendadak jadi sebuah proses kesia-siaan ketika aku mengalami ini. Aku menjadi merasa ketidakadilan dalam takdir manusia sebagai makhluk yang pasti akan mati, meski dipastikan tak ada makhluk hidup yang bisa abadi. Aku memikirkan jiwaku. Jiwa yang pada akhirnya diyakini sebagai elemen utama keberadaan manusia, hanya sebatas On dan Off. Ketika datang waktunya, hilang. 

“Kau tak percaya kehidupan setelah kematian?” tanya Terapisku.

“Tidak.”

Aku tak ingin percaya itu agar konsep hidup hanya sebatas kesia-siaan itu terus berlaku bagiku. Hidup ini percuma. Dan ketika suatu kali aku merasakan sesuatu yang menggugah, yang luar biasa, menyenangkan atau buruk sekali, aku mulai melindungi diriku sendiri untuk tak terlarut dalam suasana itu. Percuma menanggapinya berlebihan. Toh, kau akan mati suatu saat nanti. Apa yang telah kau alami akan hilang begitu saja.

Dan semakin membuatku berpikir betapa percuma aku hidup. Karenanya, “Aku takut mati. Aku paling tidak ingin mati. Apa yang telah kualami selama hidupku terlalu berharga untuk sirna hanya karena aku ditakdirkan sebagai makhluk fana.”

Aku sering memikirkan hal ini, menyelam ke dalam pikiranku sendiri. Kalau bisa kugambarkan padamu, ketika aku memejamkan mata, aku melihat sebuah lansekap kosong. Tidak pekat. Hanya kosong dan aku seperti sebuah titik dengan kemampuan melayang ke sana kemari. Aku tak bisa melihat diriku sendiri. Aku sangat ingin melakukannya tapi tak bisa. Aku melayang ke sudut atas, ke arah dahiku mungkin berada. Aku belum menemukan citra diriku. Mustahil aku melihatnya di sana. Aku melayang ke sudut lain, sampai aku kelelahan, aku tak menemukan apa pun sebagai media yang menyatakan keberadaanku. Diselimuti kegelapan semacam itu, di satu sisi memang membuatku merasa terlindungi dari dunia luar. Tapi aku sendirian dan aku tak punya pedoman apakah aku nyata atau tidak. Apa yang kumiliki hanya hasrat dan pemikiran bahwa aku hidup. Aku makhluk hidup. Tapi aku tak bisa membuktikannya.

Apakah mati akan sama seperti itu? Lalu ke mana semua pemikiran-pemikiranku selama ini? Ke mana perginya nanti semua rasa yang sudah kualami semasa hidup? Ke mana semua itu pergi? Kenapa mereka harus pergi dan meninggalkanku tanpa bentuk, sendirian dalam kegelapan, tanpa ide atau pemahaman mengenai keberadaanku di sana? Jika itulah mati, aku tak mau mati. Semua yang kujalani di hidupku terlalu berharga hanya untuk dilepaskan dari ingatanku, lalu dibawa entah ke mana. Semua ide, rasa, pengalamanku terlalu berharga untuk dihapuskan seperti tubuhku yang akan terhapus bersama tanah. Lenyap dari dunia. Aku tak mau mati. Aku takut harus mati suatu saat nanti. 

Ini tak adil. 

Terapisku berdeham. Lalu berkata, “Apa menurutmu hidup dengan penolakan adalah solusi yang adil?”
Des, 2016

Advertisements