Aras masih seperti dirinya. Penampilannya, seperti yang kulihat di hari itu, tidak begitu istimewa. Biasa saja. Kalau aku bisa membuatnya lebih jelas, aku akan kelompokkan Aras ke dalam tipe tidak-terlalu. Sebut saja: Aras tidak terlalu tinggi, wajahnya tidak terlalu cantik, busananya tidak terlalu mencolok, rambutnya tidak terlalu pendek. Jika ada satu yang melebihi kadar, itu adalah semangatnya yang terpancar dari warna wajahnya. Namun, itulah Aras, seorang gadis muda yang berbahagia karena menjadi manusia yang tidak-terlalu. Hal ini berarti, ia berada di area pertengahan. Area yang relatif aman dari marabahaya. 

Aras mungkin tak sadar bahwa kehidupan membawanya pada pilihan tersebut. Seandainya ia bisa kembali ke zaman SMP dan SMA, ia akan menemukan dirinya sendiri menjalani masa itu dengan tanpa gangguan atau gejolak berarti. Ia tak pernah menyimpulkan bahwa itu semua berkat dirinya yang tak terlalu bodoh, hingga membuatnya mampu mengikuti semua pelajaran tanpa harus dibebani jadwal pelajaran atau kursus tambahan di luar jam sekolah. Itu juga berarti bahwa tak terlalu pintar telah membuatnya tak harus meladeni teman-temannya setiap kali ulangan atau urusan pekerjaan rumah. Aras menjalani kehidupan sekolahnya dengan lancar. Bisa dibilang tanpa tekanan. Namun, bagi beberapa orang, menjadi biasa-biasa saja berarti juga kehilangan kesempatan mendapatkan perhatian atau sorotan. Tak perlu menjadi cerdas untuk mengetahui apakah seseorang yang baru kau kenal adalah tipe yang membutuhkannya. Namun, bila itu sulit, kuharap mengetahui orang tipe yang berlawanan justru akan lebih mudah. Lihat saja Aras.

Ia tengah duduk di antara para penumpang lain. Di dalam kereta yang akan menyudahi perjalanan di Stasiun Bogor. Kepalanya menoleh ke sana kemari dan matanya tampak berusaha mengenali setiap wajah di sekitarnya. Pada detik aku menyadari ia melakukan itu, aku menghitung pada detik ke berapa aku harus menunduk agar ia tak tahu aku sedang mengamatinya. Namun, Aras menghabiskan lebih banyak detik untuk melihat menembus jendela kaca di belakang kursi barisanku duduk. Mengabaikan situasi di dalam kereta yang minim gerakan. Kukira ia hanya menemukan kelebat tak berarti di luar sana. Tak pernah begitu penting, apa pun itu, karena kaca jendela kereta commuter di kota ini biasanya dibuat buram–dan semua penumpang hanya memikirkan agar tepat waktu sampai di tujuan. Namun, Aras pasti bisa melihat gemerlap cahaya lampu kota, secara buram, karena melalui kaca buram itu. Bola matanya hitam pekat dan aku membayangkan berada cukup dekat di depannya untuk menyaksikan kejernihan mata itu. Aku melihatnya sebagai gambaran kepolosan bocah enam tahun di hari pertama di kelas satu, menatap nanar pada lukisan bunga dan kupu-kupu yang dipajang di dinding, alat-alat peraga, dan foto Presiden dan Wakilnya yang dibingkai kaca. Seluruh dekorasi ruangan yang sama sekali baru itu membuat sang bocah takjub. Bagiku, mata Aras menunjukkan kedalaman tekad yang misterius. Pancarannya begitu kuat. Apalagi ketika Aras memandangi panel jalur kereta di dinding atas, bola matanya menggantung ke arah kiriku dan bertahan beberapa saat di sana. Pada saat itu, secara alami bibirnya yang tadinya mengatup, sedikit membuka. Gigi serinya mengintip. Untuk sesaat, aku mengira bahwa, meski Aras punya ciri-ciri tak-terlalu, ia mungkin bukanlah tipe yang mudah dilupakan. 

Pada hari aku melihat Aras di kereta, kami duduk berhadapan dan dipisahkan tiga pemuda yang tak mendapatkan kursi kosong, aku menerka-nerka siapa dirinya. Tebakanku ternyata sebagian besar salah setelah pada akhirnya seorang pria membuat Aras mengeluarkan suaranya yang tak terlalu berat. Namun, aku sudah membayangkan Aras lahir di bulan Oktober. Aku tak memilih tanggal spesifik. Namun, ia akan bangga karena ia lahir di hari, tanggal, dan bulan yang sama dengan pelukis favoritnya.

“Kapan ulang tahunmu, Ras?” semisal kakak perempuan dari ibunya–beliau sudah separuh baya–bertanya setelah terakhir kali mereka bertemu sewaktu Aras masih balita. 

Aras bisa menjawab dengan berbeda dan unik: “Bersamaan dengan ulang tahun Alfred Sisley.”

Wanita itu tertawa seperti wanita terhormat dengan mulut ditutupi empat jari tangannya. Lalu ia pun membalas, “Ulang tahunku sama dengan ulang tahun kucingku.”

Lalu Aras membayangkan seekor kucing hitam berusia lima puluh tahun sedang berjalan pelan menuruni tangga. Kucing itu berumur 216 dalam tahun kucing. Dan Aras tersenyum senang mengetahui kucing itu sehat-sehat saja dan mungkin masih sanggup mengunjungi keluarga saudarinya di kota berbeda.

Kembali ke pengamatanku, perkenalanku dengan sosok Aras mustahil bisa dilepaskan dari sosok lain: Seorang pria kira-kira berumur tiga puluh tahun. Lima tahun di bawahku. Namanya Samuel. Teman-temannya memanggilnya Sam. Pria inilah yang pada akhirnya membuatku menjadi mengenal Aras tanpa harus menyapanya. Mereka berdua mengobrol selama perjalanan kereta, dan aku menghabiskan waktuku mendengarkan dan mendengarkan pembicaraan mereka. Saat itu, Samuel tengah berdiri depan seorang penumpang. Ia salah satu dari tiga penumpang yang tak mendapatkan kursi. Tangan kirinya berpegangan pada pegangan khusus penumpang-tak-beruntung, sementara tangan kanannya memegangi sebuah buku terbuka. Ia berdiri agak ke kanan dari arah Aras duduk. Jadi, aku tak kehilangan pandangan terhadap Aras dan bisa tahu dari wajahnya, bahwa ia bicara pada pria yang sedang membaca itu.

Samuel sendiri, setelah akhirnya aku melihat wajahnya keesokan harinya, punya tampang yang cenderung keras dan bisa dibilang agak kasar. Warna kulitnya kecokelatan dan rambutnya seolah tak dirawat. Bagiku, Sam semacam membawa aura ketidaknyamanan. Jangan main-main denganku. Atau Apa yang kau lihat? Namun aku tertarik mengamati bagian wajah Sam dan mencoba menuliskannya dalam benakku. Ia memiliki dahi berkerut tipis. Di bagian hilir kerutan itu, sepasang alis lebat tumbuh seperti sebuah bendungan yang akan melindungi matanya dari banjir keringat di musim sepakbola. Tak bisa dibilang rapi karena kedua alisnya itu hampir menyatu. Hidungnya besar dan mengembang di bagian ujungnya, seolah itulah satu-satunya bagian tubuh dari nenek moyangnya yang luput dari proses evolusi sejak ratusan ribu tahun yang lalu. Tulang pipinya meninggi ke area lingkaran mata. Dalam keadaan diam dengan mulut terkatup, pipinya membentuk area cekung dengan rambut-rambut halus yang jarang, tapi hampir tersebar di seluruh area pipi. Ditambah rahang yang hampir persegi, Sam seakan menegaskan dirinya adalah pria yang memiliki keteguhan hati yang akan berjuang pada prinsip dan aturan. Tubuhnya tinggi, jelas sekali bila dibandingkan dengan beberapa penumpang lainnya yang juga berdiri. Dalam posisi itu, ia malah membaca buku, hal yang jarang terlihat di dalam kereta yang penuh penumpang yang sibuk memelototi smartphone. 

Sam harus melepas pegangannya ketika ia akan membalik halaman buku. Ia melakukan hal itu sampai beberapa kali. Aku bisa mengikuti gerak bahunya dan mendengar bunyi halaman buku yang bergesekan di antara deru mesin kereta dan rekaman suara petugas yang menyampaikan informasi perjalanan kereta. Hingga kemudian, Sam memutuskan menyudahi aktivitas itu dan menutup buku dengan melipat halaman terakhir yang ia baca. 

Pada saat itulah kedua tokoh dalam buku ini berinteraksi.

“Jangan dilipat. Pakai ini saja,” celetuk Aras yang kemudian merogoh tas kecilnya. Ia menyodorkan sebuah pembatas buku pada Sam yang sedang memastikan apakah Aras memang berbicara padanya. “Halaman yang terlipat itu tak enak dilihat,” lanjut Aras sambil memasang senyum.

Samuel menerima pembatas buku itu dengan ragu-ragu. Kemudian membenarkan halaman bukunya yang tadi terlipat, dan meletakkan pembatas buku Aras di sana. Ia mengucapkan terima kasih yang disambut ramah.

“Aku pernah memarahi temanku yang melipat halaman bukuku yang ia pinjam. Padahal, buku itu punya pembatas,” kata Aras kemudian.

“O, ya? Kalau begitu kau pasti pengoleksi buku,” balas Sam.

“Tidak juga. Hanya saja, buku pantas mendapatkan perlakuan layak.”

Sam berkernyit. “Jadi, kau mau bilang kalau aku memperlakukan buku dengan tidak layak?” tanyanya kemudian.

Aras mendadak sadar akan perkataannya. Lalu ia meminta maaf. Katanya, “Aku tak bermaksud begitu. Tapi, apa lagi yang bisa didapatkan buku selain pembatas dan disampul dengan rapi?” 

“Dibaca sampai halamannya rusak,” balas Sam sinis.

“Nah, dengan sedikit ketelitian, sebuah buku bisa dibaca ratusan kali dan tak rusak,” timpal Aras lagi.

Aku yang duduk di hadapan mereka mulai tertarik dengan debat kecil itu. Mimik dn reaksi yang ditimbulkan wajah keduanya memancing imajinasiku. Dan, topik pembicaraan mereka yang bisa kukatakan sangat tak penting untuk dibahas dalam pertemuan pertama, malah membuatku menduga-duga: akan seperti apa mereka bila membahas topik yang lebih berguna. Aras tersenyum ramah setiap kali ia mengatakan pendapatnya. Sementara Sam, sebagian besar aku hanya bisa menatap bagian belakang kepalanya. Namun, aku membayangkan tatapannya sinis, agak menyepelekan Aras. Nada suaranya menimbulkan kesan demikian. 

Sekarang Samuel menumpu berat tubuhnya dengan kaki kanan. Membuat tubuhnya agak condong ke Aras. Ia berkata: “Jadi sekarang, kau bilang aku tidak teliti?”

Aras tersenyum kecut dan meminta maaf untuk kedua kalinya. “Maksudku hanyalah, ada perlakuan yang lebih layak bagi buku. Itu saja kok,” katanya.

“Akan lebih mudah buatku kalau kau bilang kau sedang menghakimiku sebagai pembaca buku yang tidak teliti yang memperlakukan buku dengan tidak layak, Nona,” balas Samuel. 

Aku bisa merasakan ia tersenyum meledek saat mengatakan itu.

“Sekali lagi, aku tak bermaksud begitu,” kata Aras dengan niat menyudahi pembicaraan.

“Oh, tak apa-apa. Mungkin mimpi tersesat di sebuah perempatan kota asing yang kualami tadi malam itu, berarti aku akan dihakimi seorang turis lokal di dalam kereta,” balas Samuel.

Aras mendongak dengan alis berkernyit. “Aku bukan turis. Aku sudah tinggal di kota ini selama empat tahun,” katanya.

“Oh ya? Dan kau butuh, apa tadi itu?” Samuel membuka bukunya dan mengambil pembatas buku tadi. Ia membacakan tulisan di sana. “Panduan Singkat Menjelajahi Jakarta?”

Aras mendadak cemberut lalu tertawa pelan. “Oke. Aku baru kali ini keluar dari kamar kosku, karena dianjurkan seorang teman. Tapi benar aku sudah empat tahun lebih beberapa minggu di kota ini,” jelasnya.

Samuel manggut-manggut. 

“Aku tak tahu kenapa aku harus mengatakannya,” kata Aras lagi.

“Tak apa-apa. Omong-omong, namaku Sam,” balas Samuel sambil menyodorkan tangan.

Aras menjabat tangannya. “Aku Aras,” katanya.

Begitulah akhirnya bagaimana kedua makhluk yang kulihat di kereta malam itu berkenalan. Selanjutnya, mereka akan terlibat pembicaraan yang menarik, petualangan yang mendebarkan, dengan aku sebagai satu-satunya penonton. Hingga mereka akan menyadari bahwa mereka bukan lagi seperti dirinya sebelumnya.

Jakarta, Des 2016

Advertisements