24 Desember

Sekarang malam Natal. Para penghuni kos sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Dari dalam kamar dengan pintu tertutup aku bisa mendengar mereka mengobrol, merencanakan mendatangi suatu tempat khusus untuk merayakan Natal. Seseorang menanyakan jam berapa kebaktian dimulai di sebuah gereja entah di mana. Pemilik suara itu ingin ke gereja. Lalu seseorang menimpali agar yang lainnya segera mandi, mengenakan celana panjang dan kemeja, memakai pewangi, menyisir rambut. Bersiap-siap mengunjungi Tuhan. Sementara itu suara gitar masih mengalun, musik pengiring obrolan itu, juga sayup tapi jelas suara Celine Dion dari kamar seseorang. Tak lama kemudian, salah seorang dari mereka berbicara di telepon. Tampaknya memesan sesuatu yang ditanyainya sebagai menu istimewa dan promo Natal.

Aku di dalam kamar. Tak melakukan apa-apa selain menuliskan hal ini di bukuku. Namun, aku sudah menonton satu judul film. Final Recipe. Filmnya lumayan meski menu makanan di sana tak membangkitkan sedikit pun selera. Hanya itulah kegiatan yang kulakukan setelah bangun sore tadi. Selesai mandi aku mencoba mendapatkan sesuatu dengan menggambar di buku sketsaku (tak ada yang bisa kulakukan untuk melanjutkan novel). Kukira dengan menggambar, pikiranku akan tenang dan rileks. Namun, seperti akhirnya catatan ini tersaji, menggambar ternyata tak berhasil. Kosong. Aku tak merasakan apa-apa. Kupikir ini adalah Malam Natal terburuk dalam hidupku. Benar-benar tak produktif. Namun sejenak kemudian, aku menarik pernyataan itu dari benakku karena faktanya, aku tak mengingat apa-apa tentang malam-malam Natal yang sudah kujalani di tahun-tahun sebelumnya. Kurasa menilai Malam Natal kali ini sebagai yang terburuk benar-benar takkan bisa dipertanggungjawabkan.

Kini aku memikirkan Natal. Hari apa ini? Natal esok hari. Kenapa banyak orang merayakannya? Merayakan kelahiran seseorang yang beberapa ratus tahun kemudian disahkan penguasa sebagai Tuhan dalam sebuah agama. Lantas, dengan tak begitu antusias, aku pun ditarik ke masa lalu. Kukira daya magis Natal (karena tak begitu baik bila menyebutnya sebagai efek depresi yang sedang kualami) yang membuatku begitu. Aku melakukan perjalanan waktu. Kembali ketika aku masih SD. Perayaan Natal di sekolah antara tahun 1996 ke 1999. Saat itu aku ikut membaca liturgi, tapi aku lupa ayat Kejadian mana yang kubacakan. Perayaan Natal Sekolah takkan pernah lepas dari dua hal: pohon Natal dan janur kuning. Aku ingat pohon Natal itu karena kukira idenya berasal dari bapakku yang merupakan guru di tempatku bersekolah. Pohon Natal itu bukan pohon cemara, melainkan batang pisang. Batang pisang itu ditancapkan pada sebuah tong bekas yang kemudian diisi tanah padat. Kemudian, pada batangnya ditancapkan dahan tanaman liar lengkal dengan daun-daunnya sebagai ganti daun cemara. Aku tak ingat persis tanaman apa yang kami gunakan. Namun, pada akhirnya pohon pisang itu akan seperti pohon varietas baru yang mirip seperti pohon cemara–yang gemuk. Pada batang pisang itu juga nantinya ditancapkan beberapa penyangga yang terbuat dari bambu sebagai tempat lilin. Puncak pohon Natal akan ditambahkan salib bambu dengan ujung-ujungnya juga dilengkapi lubang tempat lilin. Semua lilin itu akan dinyalakan oleh para tamu kehormatan, yakni para pemimpin gereja yang ada di kampungku, kepala sekolah, tokoh masyarakat, pemuka adat, dll. Penyalaan lilin itu diadakan ketika Malam Kudus dinyanyikan seluruh hadirin. 

Sekarang aku melihat guru agamaku yang sedang berdiri di depan kami, menggerak-gerakkan tangannya layaknya konduktor. Gerakan tangannya yang selalu begitu-begitu saja dari tahun ke tahun memimpin kami menyanyikan lagu itu sampai selesai. Pohon Natal menyala. Cahaya kuning menerpa semua wajah yang hadir. Guru agamaku adalah ibu temanku juga. Aku ingat pakaiannya dengan motif bunga-bunga yang sepertinya jadi tren saat itu. Aku mengingat rambut keritingnya dan sambil menuliskan ini, aku membayangkan sedang berkunjung ke rumahnya. Kami duduk di ruang tamu. Ibu guruku itu, yang kupanggil “bibik” di luar sekolah duduk didampingi suaminya. Saat ini, dalam kunjunganku yang tak biasa itu, aku menyampaikan pada beliau bahwa aku mengingat perayaan Natal di sekolah saat beliau masih mengajar. Aku memikirkan hal ini karena sangat tak lazim, dalam ukuranku sendiri, seorang murid mengunjungi mantan guru agamanya, hanya untuk mengatakan bahwa ia mengingat perayaan Natal saat dirinya masih sebagai muridnya 16-20 tahun yang silam. Aku malah khawatir dituduh sedang sakit jika melakukannya suatu hari kelak.

Dulu aku menghadiri banyak perayaan Natal. Namun satu-satunya yang paling berkesan adalah perayaan Natal di kampung tetangga. Parangkua namanya. Aku tak berhasil mengingat persis tahunnya. Yang pasti aku masih SD, dan mungkin abangku sudah masuk SMP. Natal itu diadakan para Penginjil yang konon datang dari Medan. Aku tak tahu mereka jemaat gereja mana, namun mereka juga merayakan Natal di kampungku beberapa hari sebelum di Parangkua. Undangan untuk bapakku datang karena beliau telah menjalin hubungan yang baik dengan para Penginjil itu selama mereka “berkarya” di kampungku. Bahkan mereka tinggal selama beberapa hari di rumah kami di beberapa kali kunjungan mereka. Jadi, malam itu bapakku turut hadir di Parangkua, membawa serta aku dan abangku ke sana. Ibuku memilih tak hadir karena kendaraan cuma ada satu. Sepeda motor bapak. Kami bertiga berangkat malam itu, menelusuri jalan kampung yang gelap, melewati ladang-ladang dan sungai-sungai. Di Parangkua aku tak mengenal siapa pun. Tapi mereka jelas mengenal bapakku. Seperti semua perayaan Natal, acara itu pasti selalu tentang nyanyian, liturgi, doa dan kebaktian, lalu makanan. Namun, yang membuat malam itu paling berkesan adalah keikutsertaan bapakku membaca liturgi. Ia datang ke depan bersama para orangtua lainnya untuk menerima Alkitab dan ayat untuk dibacakan. Itu adalah pertama kalinya kulihat beliau membaca Alkitab. Bahkan menjadi satu-satunya dalam ingatanku tentangnya dan Natal. Abangku menceritakan peristiwa itu pada ibuku keesokam harinya. Seingatku, aku melihat ibuku tersenyum setengah tak percaya.

Apa yang sedang kukatakan di sini? Sayangnya, aku sendiri tak tahu. Mungkin aku sedang mencari jawaban dengan cara menuliskanya. Mencari tahu persis apa yang sedang kurasakan di Malam Natal tahun 2016 ini.

Beberapa waktu yang lalu aku membaca buku sejarah peradaban manusia, yang pada akhirnya, dan tak bisa dilepaskan, menyinggung tentang agama yang kuanut. Aku menyukai sejarah dunia kuno. Kebanyakan dari itu semua kubaca di internet. Ketertarikanku pada sejarah, seperti halnya pada astronomi, seringkali membuatku meragukan konsep ketuhanan dalam agamaku sendiri. Hal ini tampaknya semakin memuncak dari hari ke hari. Dan pada Malam Natal kali ini, aku bertanya pada sekitarku: apa yang sedang kalian lakukan?

Belum lama ini aku iseng jalan-jalan ke Central Park, pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempatku tinggal. Tanpa agenda sama sekali. Aku kelaparan saat itu, namun aku tetap ke sana dengan berjalan kaki. Ada sebuah area terbuka di samping Central Park yang diperuntukkan bagi pengunjung untuk bersantai. Di sana terdapat kolam ikan, jalan setapak, dan sebuah panggung. Di belakang panggung itu berdiri menjulang sebuah pohon Natal dengan ratusan atau mungkin ribuan lampu berwarna-warni sebagai daunnya. Tempat itu dipenuhi pengunjung. Ramai sekali. Di depan panggung tadi berkumpul sekelompol orang yang sedang melakukan pertunjukan paduan suara. Mereka menyanyikan lagu-lagu Natal berbahasa asing. Dipimpin seorang konduktor, para pemuda-pemudi itu bernyanyi sambil melakukan gerakan-gerakan kecil. 

Dari penampilan mereka, kukira hampir semua dari grup itu beretnis Tionghoa, berumur antara 16-25 tahun, berpakaian sederhana dengan pancaran kebahagiaan di wajah mereka. Aku duduk tak jauh dari sana, menyaksikan pertunjukkan kecil itu, menikmati malamku di tengah keramaian. Perutku keroncongan. Mulutku kering. Di atas segalanya aku merenungkan kenapa aku merasa sesepi itu. Aku merasa sendirian sekaligus damai mendengarkan lagu-lagu mereka. Di sisi lain, aku memandang mereka dengan tatapan sinis. Umpatan demi umpatan memenuhi dadaku tak lama berselang. Lalu hilang. Timbul lagi. Menghilang lagi. Aku tahu semua bercampur saat itu dan aku merasakan kebenciaan yang tak tahu kualamatkan pada apa atau pada siapa. Kenapa? Kenapa orang-orang ini begitu menikmati suasana Natal dan aku malah kesepian. Di pikiranku terbayang masyarakat Mesopotamia, patung peninggalan sejarah, dokumen-dokumen kuno, Konstantinopel, Paulus, guru agamaku, bapakku yang berdiri dengan Alkitab terbuka di tangannya. Kenapa ketertarikanku pada secuil pengetahuan dan kecenderunganku mengenang hal-hal yang tak lazim bagi anggapan orang-orang di sekitarku, membuatku serasa pantas merasakan kesepian seperti ini?
Tanjung Duren, 2016

Advertisements