Sebelum hari ini, sebelum pertemuan dengan Samuel, Aras sudah lebih dulu terlibat pembicaraan dengan teman karibnya, Nanami. Bahwa gadis yang lebih tua beberapa hari darinya ini akan menjadi faktor penyebab pertemuan Aras dengan Samuel, adalah satu-satunya orang yang pernah dan sering masuk ke kamar kontrakan Aras yang nyaman. Nanami menyebutnya sebagai bunker. Itu bahkan bisa digunakan Aras bila saja kiamat datang hari ini. Ia mencintai kamarnya dan sanggup bertahan di sana selama beberapa hari tanpa keluar selangkah pun. Aras punya persediaan makanan di dalam kulkas. Kamarnya dilengkapi dapur kecil dan ia punya galon cadangan persediaan air minum. Kalau pun bosan dengan masakannya sendiri, Aras bisa menggunakan layanan delivery. Nanami sudah bertobat menasihatinya dan sudah lama menyadari mereka bertolak belakang dalam hubungan sosial. Ketika Aras lebih menikmati bercengkerama dengan buku, lukisan, dan hamsternya yang bernama Sisley, Nanami akan merelakan apa pun yang ia miliki agar bisa mendaki gunung bersama kelompok pencinta alam di kampus. Aras dan Nanami lebih sering bertemu di malam hari dan sebagian besar pertemuan itu terjadi di kamar Aras. Tampaknya bagi Nanami pribadi, pergi keluar meskipun itu cuma ke kamar Aras di sebelah kamarnya, sudah merupakan petualangan sendiri. 

Malam itu Nanami mendatangi Aras di kamarnya. Ia mendapati gadis-terkurung itu sedang tidur-tiduran di kasurnya yang rendah sambil membelai-belai Sisley di atas dadanya. Salah satu jendela kaca terbuka. Meloloskan angin yang berembus menyejukkan seisi kamar.

“Kau tahu kan kalau Sisley itu bukan bayi untuk disusui, Ras?” kata Nanami. Saat ini ia sedang membetulkan bentuk rambutnya di depan cermin. Memyentuh-nyentuh bibirnya seperti menambal lipatan-lipatan kecil di situ. 

“Dia ini cowok dewasa kalau dihitung dalam waktu manusia,” balas Aras tanpa menoleh.

“Harusnya kau menjalani hubungan dengan cowok sungguhan. Bukannya dengan hamstermu itu. Kau tak ngeri melihat matanya? Merah dan mengilat begitu. Bisa saja ia punya niat jahat,” kata Nanami.

“Tidak. Matanya justru lucu. Dan asal kau tahu, Mi, Sisley pria yang baik. Ia tenang meski sesekali suka genit. Dan yang paling penting dia tak cerewet seperti pacarmu, Mi,” balas Aras.

“Pria cerewet justru cocok untuk gadis petualang sepertiku, Ras. Dia akan rela menasihatiku, mengkhawatirkanku, berjaga-jaga untukku. Ya, kadang menyebalkan memang. Namun, aku menikmatinya. Dan kau segeralah cari pacar, ini serius, sebelum Sisley mengira perkawinan antara hamster dan manusia tak menentang kodrat alam.”

Aras tertawa sambil memasukkan Sisley kembali ke dalam kandang. “Sudah, sudah. Kenapa kau malah cerewet hari ini? Batal mendaki gunung atau datang bulan?” tanyanya. Ia kini memilih duduk di kursi dekat jendela yang terbuka. Areal itu dijadikannya sebagai ruang belajar. Terdapat satu meja persis di depan jendela yang di atasnya tergeletak buku-buku, beberapa gelas, botol minuman, kacamata baca dalam kotak terbuka, setoples permen rasa buah-buahan, laptop yang tertutup, dan sebungkus biskuit. Di bawah kaki meja juga terdapat tumpukan buku lama: buku kuliah dan catatan-catatan yang sudah disusun rapi karena takkan dibaca lagi untuk berapa lama. Keranjang sampah kosong berdiri dekat kaki meja yang merapat ke dinding di bawah jendela. Aras mengambil novel berjudul “Selamatkan Cintaku” karangan seseorang yang ia kenal di facebook–yang tampaknya menyebut dirinya seorang novelis. Dibukanya halaman buku itu, mencari pembatas yang ia letakkan di sana beberapa hari yang lalu.

“Aku kan baru kembali tiga hari yang lalu!” tukas Nanami kini berjalan menghampiri Aras. “Dan aku menikmati pemandangan indah dan menghirup udara segar. Aku mengambil banyak foto, bersosialisasi dengan banyak orang, dan ditraktir berkali-kali oleh seorang pendaki pemula bernama Charli.”

Nanami menarik kursi satunya di hadapan Aras. Kini mereka duduk berhadapan dipisahkan meja berantakan dan jendela bercahaya. Lampu-lampu kota di kejauhan dilatarbelakangi gedung-gedung perkantoran, hotel, apartemen, dan langit hitam di atasnya. Kesibukan lalu lintas terbang diembus angin, menjelma bagai senandung malam hari.

Nanami melanjutkan petualangannya:

“Selagi kau tetap berada di kamarmu menjelang sore, aku sedang mengobrol dengan Charli di atas sebuah batu besar penuh jejak pendaki gunung lainnya. Kami sempat berpikir untuk mengukir nama kami di sana saat dia menyampaikan pendapatnya tentang betapa redup suasana di pegunungan dibandingkan dengan perkotaan. Namun, semua pendaki gunung harusnya tahu bahwa memahat batu atau menggores kulit pohon adalah tindakan ilegal. Makanya, kami hanya mengobrol dan melanjutkan topik cahaya dan ketenangan alami di alam bebas. Charli tipikal pria romantis. Berbeda dengan kebanyakan pendaki yang kukenal yang melulu memikirkan pencapaian. Seolah-olah mendaki gunung adalah karir. Ia banyak tersenyum dan bersiul. Oh, dia bisa bersiul nyaring sekali. Terkadang ia menirukan suara burung. Ia mengatakan itu suara jenis burung apa, namun aku terlalu asyik mengamati bibirnya dan tak ingat satu pun nama burung itu. Dan ketika malam tiba, ia mengajakku makan di sebuah warung di desa perhentian kami. Di bawah sinar bulan keperakan. Betapa romantis. Saat itu, aku bertaruh kau sedang menunggu pesanan pizza.”

Aras tertawa. “Aku sedang sibuk, jadi terlalu malas keluar kamar,” katanya membela diri.

“Cara hidupmu itu tak sehat. Mulutku sudah berbuih mengingatkanmu,” balas Nanami sambil mengambil sekeping biskuit di atas meja.

“Sudahlah,” desah Aras. “Lagi pula aku sudah selesai di sini. Di rumahku nanti, tak butuh berapa lama bagiku untuk menambah tiga sampai lima kilo lemak. Ibuku koki terhebat di dunia.”

Nanami mengunyah dan mengangguk-anggukkan kepala. Remah-remah biskuit terjatuh dari tepi bibirnya. “Kau sudah beli tiket?” tanyanya yang dibalas Aras dengan gerak alis. “Kapan?” lanjut Nanami lagi.

“Tanggal 18. Tapi sebelum itu aku akan sibuk memaketkan barang-barangku. Buku-buku, pakaian, lukisan, dan lainnya. Oh ya! Ada barang yang kauinginkan, Mi? Soalnya mustahil membawa semua benda di kamar ini,” kata Aras sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. “Meja ini lumayan berharga. Kursinya juga. Bahan berkualitas meski aku yakin ayahku punya banyak yang lebih baik di tokonya. Atau kau bisa bantu aku cari orang yang mau membeli perabotan lainnya seperti kulkas, kompor, dispenser, TV, dan kasurku juga. Aku sudah pusing duluan memikirkannya.”

Nanami ikut memperhatikan seisi kamar. Ia sudah sering ke sini, namun tak pernah menyempatkan memandanginya secara keseluruhan. Kini ia melihat pintu. Di lorong itu terdapat rak sepatu. Terisi beberapa pasang sepatu dan sandal yang satu nomor lebih kecil dari ukuran kaki Nanami. Di sebelah rak sepatu itu terdapat rak kecil yang tak terisi apa-apa. Bersandar padanya, terdapat tiga buah payung (dua sudah rusak), sapu bergagang hijau, tikar piknik yang tergulung, dan sebuah galon cadangan yang terisi penuh. 

Di sebelah kanan pintu dari arah masuk ke kamar, berdiri dinding pembatas lorong dengan kamar mandi. Pintunya sendiri menghadap ke tengah kamar. Pada dinding itu digantung sebuah lukisan ukuran 40 x 60, karya Aras sendiri di tahun keduanya kuliah Seni Rupa, yang melukiskan sebuah gelas terisi penuh kopi di atas sebuah meja. Berlatar tirai tanpa motif, lukisan itu mencoba meniru teknik naturalisme ala Basuki Abdullah. Namun, Aras pernah berkata bahwa ia gagal melakukannya: Lukisan itu lebih mirip fauvisme yang prematur dan ambisius. Nanami yang memberikan judul lukisan itu karena Aras terlalu angkuh hendak menimpanya dengan lukisan lain. “Segelas Penuh Kopi”. Dan Nanami tak memosisikan dirinya sebagai penyemangat. Ia ikut menyebut lukisan itu gagal sebagai natural  karena menampilkan kepalsuan: Aras bukanlah peminum kopi. Gadis kurus itu malah tak punya kopi instan di dapurnya, melainkan berpuluh-puluh sachet susu jahe, yang tak punya iklan TV. 

Nanami melanjutkan pengamatannya ke sebelah kamar mandi, ke sebuah sudut yang disebut Aras sebagai dapur, tempat Aras berulang kali mengalami apa yang disebut Nanami sebagai musibah menyedihkan dalam dunia masakan. Areal itu ditandai dengan keberadaan sebuah kulkas setinggi bahunya, jemuran portable; dan di dinding sebelahnya berjejer lemari setinggi langit-langit tempat segala perabotan dapur berada dan pantry ala dapur minimalis selera masyarakat urban. Sebuah jendela yang jarang dibuka, kecuali saat Aras memasak. Areal dapur itu berakhir dengan sebuah tiang beton sebagai pembatas dengan bagian tengah ruangan, yang menurut Nanami dibuat setelah kamar selesai dibangun. Menempel pada tiang itu, sebuah dispenser terletak di atas nakas rendah. Di sebelahnya, sebuah rak buku setinggi pinggang dan kerajaan Sisley berada di puncaknya. 

Sementara di ujung sudut satunya, adalah areal yang disebut Aras sebagai ruang kreasi. Tempat ia menyusun semua peralatan lukisnya. Dalam empat tahun ini ia sudah menumpuk puluhan kanvas berbagai ukuran. Sebagian besar sudah ia lukis dengan bakat yang sedikit lebih baik daripada masakannya. Dari sebagian besar itu, hanya sedikit yang sudah rampung dilukis. Sisanya masih berupa sketsa kasar. Aras pernah membela diri: bahwa seringkali imajinasinya hanya bertahan beberapa menit, kemudian menghilang tanpa bekas sebelum ia mampu menuangkannya di atas kanvas. Ruang kreasi itu dilapisi sejenis karpet yang terasa tak nyaman dijejak dengan kaki telanjang. Karpet itu dipenuhi noda cat, berbau tinner dan terpentin, cola, susu jahe, dan pakan hamster. Kombinasi aroma yang disebut Nanami sebagai parfum kuda liar. Pada dinding ruang kreasi itu dipajang sebuah lukisan Alfred Sisley, Meadow. Itu cuma hasil cetakan digital dari sebuah studio foto tak jauh dari kampus Aras. Ia memajangnya di sana untuk mengingatkan diri bahwa ia ingin menjadi pelukis suatu hari nanti. Sementara dinding satunya yang menghadap ke jalan di bawahnya, hampir dipenuhi jendela kaca berkusen kayu dan ditutupi tirai berwarna kuning lembut. Bagian ini disebut Aras sebagai dinding cahaya. Sinar matahari petang akan membuat seisi kamar terang benderang seperti taman lampu. Waktu itu adalah waktu-waktu yang sering digunakan Aras untuk melukis. Katanya suatu kali: “Sinar keemasan membuatku yakin bahwa melukis adalah kegiatan yang layak dilakukan seorang gadis yang jarang keluar kamar”. Di dinding cahaya inilah disusun meja belajar kayu dengan sepasang kursi (beli satu gratis satu, tapi berbahan plastik) tempat Aras dan Nanami tenggelam dalam pengamatan mereka sekarang. Di belakang Aras, sebuah rak buku dan ranjang tidur di depannya. Menempel pada dinding pembatas kamar Aras dengan kamar Nanami. Dinding bisu karena tak ada apa pun yang dipajang di sana. Menciptakan kontras yang terasa timpang dilihat keseluruhan.

“Sepertinya ada banyak barang yang harus kaupaketkan, Ras,” kata Nanami.

“Iya. Makanya, kalau ada yang kau mau ambil, ambil saja. Kulkas itu rasanya mustahil dibawa pulang,” balas Aras.

Nanami mengedikkan bahu seakan tak punya pilihan lain.

Advertisements