Bimbang

(1)

Coba kau hitung berapa malam yang kulalui, dengan deras dingin mendekap sepiku. Coba kau sapalah bintang mana kubisikkan, betapa aku sangat merindukanmu.

(2)

Aku terhenti menanti kata bangkitkan lagi, seperti masa lalu hantui tempat ini. Kutahu kaupahami sisi gelap di hatiku, menuntutku ‘tuk selalu menyadari arti.

bridge.

Senyummu, lepaskanku dalam bimbang. Hatiku terlalu rapuh ‘tuk memutuskan.

reff.

Sebaiknya kumenunggu atau menjemputmu, datang dalam bising rel kereta di setiap senjaku. Sebaiknya kumenunggumu karena aku bisa menerima apa yang kau bawa.


Bila Malam Datang

Jauh kugapai hatimu, kucoba mengerti yang terjadi. Kini aku terhimpit sepi. Kebekuanmu mengakhiri.

Lalu kucoba menepiskan kesal, kucoba menerbangkan khayal, di semua mimpi-mimpi. Aku jatuh sakit dan terbangunkan. Aku sadar diri dan terlupakan. Aku sayang engkau dan terlupakan.

bridge.

Kutunggu dirimu. Kunanti sadarmu.

reff.

Dan bila malam akan datang, membawa bulan yang menari-nari dengan bintang. Tetapi aku merindukanmu, tak ada bintang yang menari denganku. (Dan bila malam akan datang, membawa bulan yang bernyanyi-nyanyi dengan bintang. Tetapi aku merindukanmu, tak ada bintang yang bernyanyi untukku).

Dan bila lalu pulang, setelah tubuhku tercabik-cabik oleh rindu. Apakah engkau melihat aku. Apakah engkau menatap aku.


Tak Tepat

Semalam kita bertengkar, mungkin cintamu perlahan memudar. Semalam kita bertengkar, ataukah diriku yang terlalu kasar. Mungkin hati kita yang terlalu peka: tentang rindu yang tak tepat kita senandungkan.

Tadi kausebut namaku dan kudiam membisu. Setelah itu engkau ucapkan padaku. Inilah rasanya pedih dan sakit, karena itulah bumbu cinta termanis. Dan kaubilang padaku kausayang aku. Dan kubilang padamu kusayang kamu selalu.

reff.

Suka dan benci, semua kita bagi. Sayang dan cemburu karena waktu yang tak tepat datang untuk kita.

Kuharap nanti kita berbaikan. Buanglah semua ragumu dan kumohon lupakan. Masihkah aku dan kamu saling mencintai, meski kita dipeluk marah dan kesal pun hantui. Tapi aku dan kamu tetap saling menyayangi.


Terhebat Untukmu (cipt. Fisca Ran)

(1)

Kutemui engkau di sepanjang langkahku, bahagia yang kudapatkan. Meski pernah kauragukan arti napasku, tapi kuselalu sayang. Sekalipun kau pernah berdusta, kujaga kau tetap berharga. Kau sosok yang aku kagumi, dan cobalah kaupahami.

chorus.

Biar hujan membasahi soremu, kubawakan secangkir kopi hangat untukmu. Membuatmu senyum, membuatmu senyum, dan kau ‘kan akui ku yang terhebat untukmu.

(2)

Banyak sudah terik hari yang kita lalui, kugenggam erat tanganmu. Yakinlah kau selalu ada mimpiku. Cobalah coba resapkan. Sekalipun kita terjatuh bersama, kubuat kau tetap tertawa. Kau sosok yang aku sayangi, dan cobalah kau mengerti.


Tetap Istimewa

Aku melangkah mendekati hampa hariku, sekali lagi seperti yang telah kulalui. Mungkinkah aku ‘kan kembali ke dalam hatimu? Saat segalanya usai terjadi, niatku memutarbalikkan waktu. Apa sanggup kukencani sepi.

Aku pergi menjauhi sudut peduli, tanpamu yang biasanya temani. Apa kabarkah kau di sana? Mungkinkah engkau akan melihat, seberapa tegar hati kupunya, yang ingin aku tunjukkan?

reff.

Benar aku pergi, inginku tak peduli, karena cintaku untukmu, serasa tak berharga lagi. Sejauh aku melangkah engkau senja terindah. Tetaplah jadi istimewa, ‘kan kucinta kau selamanya. (Tak ada penggantimu, Dinda, bahkan hingga waktunya tiba).


Perhentian Akhir

Hujan mendekapku erat, menyelimuti getarku di perhentian terakhir. Mungkinkah kau ‘kan melihat, bagaimana kucoba relakan. Bersama hujan melarutkan semua harapanku: tak mungkin lagi miliki dirimu. Seindah mimpi yang pernah kita puja bersama: kuabadikan dalam kenangan.

(1)

Ratap hati telah mengubah warna biru di hidupku: Apa tak sedikit pun kaurindukanku? Nanti hari perlahan tenggelamkanku bersama malam. Hm, relakan semua.

bridge.

Ketika aku berserah, apa benar angin menyampaikan? Ketika aku terlarut, mohonkan Ia menyadarkanku.

(2)

Ratap hati menyisakan dingin seumur hidupku: Apa bisa kaurajutkan selimutku? Nanti hari perlahan berputar sadarkan tangisku. Oh, relakan semua.


Aku Bisa Setia

Firasatku awal bertemu. Inikah rasa yang kunanti. Senyummu terangi hariku. Cerah kaubuat. Apakah masih engkau ingat, ketika kunyatakan cinta? Ucapmu hanya satu kata: Yakinlah.

bridge.

Andai kudapat meraihmu, nama yang selalu kupuja. Gemetar aku menyadari. Ingin kau juga mengerti.

reff.

Senyum indah milikmu, telah merobohkan aku. Itu selalu terkenang, meski senja berpulang. Erat akan kujaga, waktu yang kita punya: Aku pasti bisa setia.


Yakin Sabar Sampai

(cipt. Amri Hidayat)


Mendung 

Disertakan lagi di album Dulu Kini Selamanya.


Advertisements