UNTUK beberapa alasan, aku tidak terlalu menyukai subtitle yang kuunduh dari situs subscene.com–meski tetap saja aku gunakan untuk menonton film. Masalahnya adalah karena aku “tahu” sedikit banyak soal ejaan. Untuk kualitas, seperti hasil terjemahan, aku cukup yakin para penggiat subtitle di dunia maya ini punya kemampuan yang mumpuni. Masalahnya hanya pada ejaannya. Karena kesalahan pada penulisan “di sini” menjadi “disini” saja sudah membuatku gerah, panas tinggi, batuk-batuk, yang mungkin bisa berakibat fatal (halah). Namun, mustahil tidak mengucapkan terima kasih kepada para pelaku tindakan “jahat”–dalam ukuranku sebagai penikmat film asing.

Dalam beberapa kesempatan di tahun-tahun yang menyenangkan dulu, aku berpikir kenapa tidak kugunakan saja kemampuanku yang tak seberapa ini untuk membuat terjemahan yang sesuai dengan ejaan (baca. seleraku). Lantas, niat iseng itu akhirnya terwujud tahun lalu, ketika aku memutuskan untuk menerjemahkan season 1 sitkom Two and A Half Men. Hal itu kulakukan dengan dua alasan utama, yakni: 1) aku tak menemukan subtitle Bahasa Indonesia-nya, dan 2) aku ingin Aria bisa menontonnya. Antara kita saja, Aria memang tidak cukup paham soal beginian. Jadilah petualanganku bermula dari sitkom yang sudah tayang sejak tahun 2003 itu. Sebenarnya aku sudah pernah menontonnya di tahun 2009-2010, ketika masih kuliah. Mustahil tidak menyebut Dinda, karena dialah yang mengenalkanku pada acara lawak-dewasa yang dibintangi Charlie Sheen, Jon Cryer, dan Angus T. Jones itu.

353757-two-and-a-half-men

Aku masih menerjemahkannya. Saat ini aku sudah di season 5. Masih ada 7 season lagi yang menanti, karena ternyata Aria terhibur dengan komedi itu. Namun, aku tak meniatkan untuk menyebarluaskan subtitle terjemahanku di internet. Begitu selesai kubuat, ditonton Aria, maka kusimpan ke Drive. Mungkin suatu saat nanti aku butuh untuk menontonnya lagi.

Semua berubah ketika akhirnya aku tertarik mencoba menerjemahkan film. Yang kupilih adalah film berjudul Mona Lisa Smile (2003) yang dibintangi Julia Robert. Kupilih film itu karena aku tak menemukan subtitle Bahasa Indonesia-nya, dan aku sangat ingin menontonnya. Jadi, “terpaksa” kulakukan perbuatan jahat ini. Hasilnya, duh! Susah benar memang menerjemahkan ini. Aku harus banyak belajar meningkatkan kemampuanku. Sejujurnya masih belum yakin apakah itu sudah pas atau belum. Yang berbeda adalah kali ini subtitle itu ikut kuupload ke situs subscene agar bisa dinikmati siapa saja. Melihat jumlah download-nya, hal itu malah mendatangkan kesenangan aneh. Sama seperti ketika karyamu dibaca orang-orang di blogmu. Kupikir, aku bisa melakukannya lagi.

mona_lisa_smile_poster_05_lrg

Tak lama berselang, aku membuat terjemahan film animasi, Stork (2016). Ini pengalaman yang menarik karena film animasi itu lucu dan asyik. Lama-kelamaan, perbuatan melanggar hak cipta ini semakin mengasyikkan. Lantas berturut-turut aku membuat terjemahan untuk film The Hollars (hanya karena ada Anna Kendrick di sana). Ini jenis film keluarga yang santai. Ditonton tanpa mengernyitkan dahi.

hollars

Lalu, berlanjut dengan drama All We Had besutan Katie Holmes. Kalau menurut penilaianku adalah, aku terlalu berharap Katie jago jadi sutradara. Aku sedikit kecewa dengan film ini. Selain karena dia tidak tampil cantik #plak, juga karena filmnya nanggung. Aku kurang terpengaruh untuk ikut larut dalam pergulatan batin Katie sebagai ibu.

allwehadposter

Lalu ada A Kind of Murder (yang dibintangi si superhero Watchmen, Patrick Wilson). Film ini cukup seru. Oh, tolong jangan minta aku membuat review atau apresiasi. Aku rasa sudah cukup banyak para peresensi yang mumpuni di imbd.com yang membahas film dengan ulasan yang tajam setajam silet. Tapi aku mungkin harus menyatakan pendapat pribadi, bahwa thriller ini, buatku terasa aneh. Meski begitu, aku cukup menikmatinya.

odrgsgxmoaahbdhm73qxravcqjs

Yang mau mengunduh subtitle-nya, silahkan kunjungi link berikut: https://subscene.com/u/1026923. Tapi aku takkan menjanjikan subtitle itu sempurna, karena aku baru belajar.

Pelajaran yang kudapatkan selama menerjemahkan subtitle film itu adalah bahwa film yang menyenangkan selalu dibuat dengan dialog yang menyenangkan. Untuk film animasi, dialognya cenderung ringan dan sederhana. Untuk drama-komedi cenderung banyak, bertele-tele, sahut-menyahut. Untuk thriller, dialognya singkat dan padat dan tak sebanyak genre yang lain. Contohnya saja, Two and A Half Men punya dialog hampir sepanjang durasi episodenya. Dan itu pekerjaan yang sangat melelahkan. Beda dengan thriller A Kind of Murder yang cenderung pelan dan memanfaatkan jeda di banyak bagian demi nuansa “thriller”-nya. Demikian juga drama, pada All We Had. Sedikit banyak hal itu tertanam di benakku, meski siapa yang tahu ini apa gunanya dalam kehidupan nyata?

Suatu ketika aku berpikir untuk menerjemahkan film dengan genre lain, seperti dokumenter. Rasanya pasti sangat berbeda, karena jika film dengan genre lain, penulis skenario memastikan agar penonton cukup mengerti saja dengan dialog film. Sementara untuk film dokumenter, yang beberapa judul sudah kunikmati, ada kecenderungan bahwa dialog ataupun narasi haruslah berstruktur baku dan lengkap. Sedikit tertantang, tentu saja. Namun, aku belum menerjemahkan film lagi, selain serial Two and A Half Men itu. Aku tipikal pemilih pula. Beberapa judul film baru yang kutonton dengan niat membuat terjemahan, urung karena setelahnya aku menilai film itu tak terlalu bagus. Namun, ada banyak film lama yang belum tersedia subtitle bahasa Indonesia-nya. Yang menanti seseorang berbaik hati berbagi hasil kemampuannya, agar mereka yang tidak cukup mengerti bahasa Inggris atau bahasa lain, juga bisa menonton film tersebut. Terkadang aku menemukannya dan kewalahan. Terkadang aku menemukan dan kehilangan energi. Terkadang aku ingin, tapi laptop tidak punya. Kukira, aku takkan pernah bisa profesional 😉

Baiklah. Kira-kira itu saja untuk topik berbeda kali ini. Mungkin aku akan menerjemahkan film lagi dalam waktu dekat ini. Menanti atau mencari judul film yang cukup seru dan mengasyikkan. Karena kalau tidak begitu, kegiatan ini serasa hampa saja rasanya. Kupikir, justru karena Aria paham dan menikmati sitkom itu, makanya aku melanjutkan ke film. Atau entahlah. Di sisi lain, ini membuatku sedikit-sedikit (terpaksa) jadi mengerti bahasa Inggris :p

 

 

Jakarta,

03.180117.02.33

 

Advertisements