Kemarin, 28 Mei 2017, pertandingan Roma vs Genoa, adalah salah satu hari paling sedih dalam hidupku. Aku masih nangis saat menonton beberapa klip video tentang hari itu. Pertandingan terakhir idolaku, Totti, dengan seragam Roma, klub yang ia bela sejak jadi pesepakbola. Totti masuk sebagai pemain pengganti di menit 56. Roma mengakhiri laga dengan menang 3-2 dan finish di peringkat kedua musim 2016-2017. Lalu, sebagai salam perpisahan, Totti pum berpidato. Ini kata Totti di penutup pidato tsb, yang kukutip dari situs detik.
“Terlahir menjadi orang Roma dan Romanisti adalah suatu keistimewaan. Menjadi kapten tim ini adalah suatu kehormatan. Kau adalah–dan akan selalu menjadi–hidupku. Aku tidak akan lagi menghiburmu dengan kakiku, tapi hatiku akan selalu ada denganmu. Sekarang, aku akan menuruni tangga dan memasuki ruang ganti yang menyambutku sebagai anak kecil dan pergi meninggalkannya sebagai seorang pria. Aku bangga dan senang bisa memberimu cinta selama 28 tahun. Aku cinta kamu.”

Tak mengapa kan kalau aku menangis karena salam perpisahan Totti? Setelah ini dia takkan lagi bersama Roma. Kemungkinan besar takkan lagi bermain bola. Sebagai penggemar, aku tak rela. Namun, yang semakin membuatku sedih adalah, kita pernah sama-sama mengidolakannya. Kita sama-sama membencinya ketika dia marah atau berbuat kesalahan. Lalu kita juga tertawa membaca kelucuan-kelucuan Totti dari majalah atau Internet.

Sekarang, di mana pun kau kini, apakah kau juga merasakan sedih yang sama karena salam terakhir Totti? 

Sampai saat ini ia hanya bermain bagi satu tim. Roma. Pernah kukatakan betapa ia setia. Sementara itu, di hatiku aku masih menyimpan namamu. Ah, tentu saja mustahil membandingkan dengan Totti. Pada akhirnya segala sesuatu memiliki akhir. 

Selamat jalan, Pangeran. Semoga beruntung di petualanganmu berikutnya. 

Advertisements