​Mungkin sudahlah sampai aku. Lima tahun lebih awal dari serapah pincala berengsek; suatu kali bertengger ia di dahan pohon jambu di samping rumah. Dinyanyikannya puisi-puisi perjalanan; tentang embusan angin di atas kapal pada musim merindukan; pada bising kereta melintasi pemukiman-pemukiman sepi; pada matahari yang tak pernah sampai di ubun-ubun kita.

Mungkin sudahlah kalah aku. Lebih takut daripada saat dikejar adikku dengan parang di tangannya; berkelahi entah karena apa. Ketakutan-ketakutan tumbuh diam-diam; semakin tahun semakin aneh dan menggelikan. Suatu malam terjaga, aku memutuskan membenci mimpi saat aku menjadi diriku sendiri.

Mungkin sudahlah habis dayaku. Lebih renta dari tiang rapuh di lantai dua balkon rumah yang kutinggali. Betapa menyedihkan nasibnya tergantung pada atap; diledek daun digoda angin dirajam hujan. Mungkin sayup ia mendengar dari kejauhan: suara-suara kendaraan, mesin-mesin tukang, lantunan lagu-lagu Malaysia. Dan aku masih memandanginya, pura-pura memahami bagaimana caranya membuatku terkenang yang sudah-sudah. Cinta.
Juni, 2017

Advertisements