Sedang merenungi perjalanan di balkon, dari kejauhan terdengar pengumuman dari musala: seorang warga telah meninggal dunia. Beliau adalah bapak dari seorang temanku. Kebetulan, mendiang menjabat sebagai RW juga. 

Dengannya, aku tak ingat persis bagaimana perkenalan kami. Tahu-tahu kenal saja dan akrab. Setiap pulang kerja dini hari, ia melintas lewat toko. Kalau tak salah, ia pernah menantangku menebak usianya. Saat itu, semalam suntuk kami menyeruput kopi di warung tak jauh dari tempatku bekerja. Dari sana, sedikit banyak aku paham pemikiran-pemikiran dan perjalanan yang ia tempuh sampai ia berkeluarga. 

Masih kepala empat dan ia pun berpulang. Adalah penyakit yang mengawali kepergiannya. Meski pengobatan sudah diupayakan keluarga, namun siapa yang tahu tentang hidup? Tuhan punya rencana sendiri.

Beliau pada akhirnya membawaku pada pertemanan dengan istrinya, seorang ibu yang baik hati, dua putra, dan satu putri. Aku pernah menginap di rumah sederhana mereka, beberapa kali menumpang mandi, dan ditawari makan juga. Kesederhanaan mereka membuatku nyaman. Tak terintimidasi. Suatu malam di tahun 2015, aku ikut membantu mendiang membersihkan mobil angkutan umum yang ia bawa. Pukul 2 dini hari. Kami mengobrol banyak sampai berlanjut ke warung semirip burjo di Jogja. 

Aku bisa tahu bagaimana mimpi dan harapan beliau terhadap anak-anaknya. Kebetulan, ketiganya masih di bawah umurku. Maka, suatu kali beliau memintaku membimbing putra sulungnya; menasihati sekaligus mengajari beberapa keahlian komputer yang kupunya. Siapa tahu, katanya dulu, kelak ia butuh atau bisa memanfaatkannya untuk hidup. Itu kata-kata terakhirnya yang susah payah ia ucapkan karena penyakit TBC.

Beberapa waktu yang lalu, baru aku tahu kalau beliau sakit. Mendengar jenis sakit itu, aku ikut khawatir. Lantas, sehalus mungkin aku tanya pada putranya, apa kemungkinan buruk yang terjadi. Tentu saja ia takkan mengatakan hal terburuk. Maka, aku pun mengamini bahwa Pak RW kami pasti bisa dan akan segera sembuh. Beliau pun bertahan beberapa bulan. Keluar-masuk ruang perawatan, sampai menyerah malam ini.  

Aku tak begitu akrab dengan rasa kehilangan. Peristiwa dukacita begini belum terjadi di rumah kami. Dan aku selalu sulit menerjemahkan kehilanganku. Dulu semasa masih kuliah, orang yang kupanggil Abang, yang membantuku dalam banyak hal, sampai kusebut aku berutang budi padanya, meninggal dunia karena penyakit. Beliau juga pergi dengan menanggalkan rasa sakit di tubuh fananya. Keduanya terbilang masih muda. Pak RW masih tampak bersemangat, berwawasan, dan ceria. Abangku itu bahkan baru menikah dan belum dikarunia keturunan. Entah bagaimana, kedua peristiwa ini membawaku pada perenungan betapa percuma rasanya hidup ini.

Berpulangnya Pak RW juga membuatku teringat orang tuaku di kampung halaman. Bapakku yang sakit kepala dan ibuku yang susah tidur. Mereka lebih tua dan akan semakin tua lagi. Apa yang sudah kulakukan untuk mereka? Apa karyaku yang bisa membuat mereka bangga, yang lalu menghapus kekhawatiran mereka sebagai orang tua?

Kehidupan ini, betapa menyedihkan di saat kehilangan. Pak RW sudah pergi meninggalkan anak dan istrinya. Aku benar-benar tak menyangka ia sudah tiada. Kupikir, ia akan sembuh. Aku percaya apa yang dikatakan anaknya padaku. Membantuku untuk tak lagi khawatir. Ah… Kita bisa apa, Teman? Hanya berusaha dan berdoa. Sisanya, kehidupan punya cara sendiri. 

Pada akhirnya aku cuma bisa mencatat pengalamanku. Selamat jalan, Pak RW. Selamat berkendara ke sana. Terima kasih sudah berteman denganku. Aku masih pemuda, Pak. Sama seperti putra sulungmu. Belum bisa berbuat apa-apa. Hanya punya sedikit cerita. Terima kasih banyak untuk pembicaraan kita di mobil angkutan umum saat kau menaikkanku di pinggir jalan itu, tawaran kopi di warung di pagi buta, urusan kerja di toko, keramahtamahanmu di rumah. Selamat jalan dan semoga tenang engkau di sana, sembari keluarga yang kautinggalkan tetap tabah melanjutkan hidup yang singkat ini.
Minggu, 11 Juni 2017.

Advertisements