Malam ini kuharap sebagai malam terakhirku di ruko tempatku tinggal beberapa bulan belakangan. Aku mau mengontrak sebuah kamar tak jauh dari sini. Mungkin cuma sebulan. Mungkin lebih. Pekerjaanku masih belum jelas walau sudah syukur ada kerja sebagai editor freelance via Internet.

Waktu berbuka puasa belumlah lama. Aku baru saja menyantap gorengan, minum es, dan sedang merokok di balkon sambil menikmati embusan angin yang tak biasa. Lantas, aku memikirkan tentang syukur. 

Aku tinggal di kampung halaman pada akhir 2014 sampai beberapa bulan sebelum 2016. Kupikir cuma setahun dan aku sedang memikirkannya. Memang, dalam rentang waktu itu, aku bisa membuat album musikku yang kesembilan, yang mana semacam sebuah pelepas dahaga kembali berkarya. Namun, rasanya aku tak cukup bersyukur kala itu.

Ada yang bilang sikap bersyukur bisa mengobati kegelisahan terhadap beban dalam hidup. Aku bukan ingin menganalisis teori ini, apalagi tentang makna syukur itu sendiri. Yang kurasakan hanyalah selama setahun tinggal bersama orang tua, setelah sebelumnya aku merantau ke sana-kemari, aku gelisah dan mengutuk diri: kenapa aku bisa berakhir semalang demikian. Kukatakan saja, bahwa aku punya kemampuan yang bukan hanya diakui orang-orang dekat, tetapi juga mereka yang hanya tahu luarku saja. Dalam beberapa level, mereka juga bertanya kenapa aku malah hanya menjadi operator sekolah, dan bukannya jadi pelukis seperti hobiku di masa kecil hingga SMP. Atau, senaif pemikiran bahwa setidaknya aku bisa bekerja sebagai karyawan sebuah perusahaan berdasarkan gelar akademisku. 

Hari-hariku selama setahun di kampung terasa menjemukan. Benar-benar menyiksa. Kukira karena aku selalu menganggap berhak dapat lebih dari sekadar hidup “bahagia” di kampung halaman. Dekat dengan keluarga. Tidak. Aku dilahirkan dan tumbuh dengan banyak keahlian. Aku bisa melakukan banyak hal. Dan mendapati rutinitasku di desa, telah menciptakan kegelisahan dalam diriku. Pikiranku tak pernah lega. Dadaku sesak dan aku kehilangan empati pada orang tuaku: pada aktivitas keseharian mereka yang bagiku percuma dan omong kosong saja. Pada level yang lain, aku pun membenci banyak hal. Dalam hubungan asmara, aku kehilangan gairah dan mulai menciptakan masalah-masalah. Aku frustasi dan itu kusimpan sendiri.

Di balkon ini, aku kembali memikirkan pengalamanku itu. Sambil mengunyah gorengan, meneguk segarnya es, diam-diam aku bersyukur bisa makan hari ini. Lantas, kurasakan ketenangan di dadaku. Pikiranku jernih dan mood menulis muncul dengan sendirinya. Kukira, setahun menyiksa di kampung halamanku dulu akan berbeda jika aku bisa mensyukuri apa yang sudah kupunya. Lantas, dari sini kutemukan bahwa aku memang layak merasa tersiksa saat itu, pantas merasa gelisah dan marah. Itu semua bukan karena aku yakin aku mampu. Bukan karena percaya aku berhak mendapatkan lebih. Tentu saja, semua akal akan setuju bahwa kau hanya pantas mendapatkan apa yang kauperjuangkan. Berdasarkan semua hal baik yang kaulakulan. Kusadari aku tak pernah benar-benar melakukannya. Lalu merasa bersalah karena sudah merutuki semuanya. Serasa tanpa alasan. Merasa sudah bersikap bukan pada tempatnya. Seharusnya aku malu. Sepasti orang tuaku yang merasa gagal dalam mendidikku.

Waktu semakin menua, aku belum melakukan apa-apa dalam hidupku. Musik apanya? Nama tercatat sebagai editor apanya? Bagaimana cara terbaik menilai hal-hal semacam omong kosong tersebut tanpa rasa syukur bisa melakukannya? 

Dua batang rokok sudah tandas. Embus angin semakin dingin. Nun jauh ke sana, diam-diam kulayangkan salam penyesalan. Seharusnya aku bisa mensyukuri waktu yang tak mungkin kembali. Dengan begitu semua makhluk memutuskan berupaya sebaik-baiknya. Menjalani hidup dan bahagia. Seperti yang kuduga kurasakan sekarang. Betapa lucu, bersyukur pada hal-hal kecil, namun melupakan hadiah besarku yang dulu. Sayang sekali….
07.180617.19.04

Advertisements