Tadi saat aku membeli gorengan di warung, ada seorang perempuan lucu yang antre di depanku. Lama kuperhatikan ia; kedua bola matanya yang polos, rambut lurus sebahunya yang kemerah-merahan, dan pipinya yang tirus. Ia beli, “Ini dua ribu,” katanya menunjuk gorengan ketika ditanya penjual. Lalu, ini sekian ribu, ini sekian ribu, ini sekian ribu, dan itu sekian ribu. Tanpa kusadari aku tersenyum memperhatikan telunjuk dan gerak bibirnya. Lantas, sembari ia menunggu pesanannya dibungkus Nenek penjual gorengan, aku pun menyapa gadis mungil itu. 

Kutanya, “Namamu siapa?” Ia menjawab malu-malu yang di telingaku menangkap nama Lida. Kutanya lagi sudah kelas berapa dia.

“Kelas tiga,” jawabnya. 

Aku pikir betapa lucu gadis mungil ini dan wajahnya mirip seseorang yang kukenal. Kukira itulah awalnya kenapa aku malah memperhatikannya. Di mataku, Lida mirip dengan anak yang kelak akan dilahirkan oleh orang yang kukenal. Aku melihatnya seperti anak mantan kekasihku, tapi jelas bukan aku bapaknya. Apa kalian pernah mengalami hal yang serupa? Begitu antusias, kutanya lagi ia sudah bagi rapor apa belum. Lida mengaku tidak dapat juara kelas. Tampangnya jadi lesu. Lantas, kupastikan, “Tapi enggak ada nilai merah, kan?” Ia pun mengangguk. 

Selesai pesanannya dibungkus dan membayar, Lida pun beranjak dari warung dengan menaiki sepedanya. Sepeda yang tampak raksasa ketika dikendarainya. Aku pun memesan gorengan, membayar, dan kembali ke perenunganku yang apalah artinya ini. Sambil berjalan kaki, terjadilah dialog imajiner di benakku antara aku dan mantan kekasihku dulu. 

“Hei,” sapaku. 

“Mau apa kau?” balasnya agak membentak. 

Dialog pun terhenti karena aku mengerti takkan pernah ada jalan untuk kembali.
04.220617.16.57

Advertisements