​Sepasang jendela tanpa tirai, kaca-kaca suram, pintu geser tak berdaun, tampang mengantuk si kipas angin, sebuah lampu tergantung di langit-langit, dan mimpi yang berserakan hingga ke sudut-sudut kamar, hanyalah beberapa hal yang selalu kujumpai ketika bangun pagi. Tak ada yang istimewa.

Kau pernah berkata jatuh cinta selalu karena hal sederhana; pada hal-hal kecil seperti kerikil yang membuatmu tersandung; debu yang melukai mata; satu kedipan sesaat sebelum kau tertawa, atau semilir dingin yang meraba rambut halus di kakimu karena selimut yang terbuka. Istimewa hanya perkara rasa.

Bertahun-tahun kini, setelah bangun aku masih menyesap secangkir kopi, sambil bersandar pada dinding balkon dan merokok aku. Masih seperti dulu. Di antara kepul asap rokokku. Tak jauh dari sini bisa kulihat atap-atap rumah semerah tanah, di antara lekukannya ada bangkai dedaunan basah. Lalu satu-dua antena TV yang setia, kabel-kabel listrik yang bersilangan berlatar biru langit kesepian, tempat pembuangan sampah dikelilingi perdu dan kupu-kupu. Hal-hal paling biasa di duniaku.

Aku pernah yakin kau selalu ada di baliknya. Namun tak pernah kutemukan kau: tak pernah kucari kau. Apakah sekarang kau akan berkata aku cuma meniru penyair bahagia? Mengira hidup sesederhana membaca kata-kata di halaman buku-buku yang ia beli tanpa melihat label harga? 

Kopi sudah tandas seiring matahari meninggi. Tapi aku tak sampai bertanya kenapa perdu tumbuh di antara sampah; mengapa antena itu masih di sana walau satu yang baru sudah berdiri di sampingnya. Siapa yang kita ajak bercanda? Ampas kopi di dasar cangkirku atau kupu-kupu yang tersesat mencari taman bunga?

01.260617.08.53

Advertisements