​Persis enam tahun yang lalu, aku sedang berjalan menuju kereta di stasiun Gambir. Kereta ketiga dalam hidupku yang akan membawaku ke Bandung. Aku baru satu-dua jam tiba di Jakarta, kota megah luar biasa, meski tak pernah menjadikannya sebagai impian. Kau tahu persis, adalah Bandung dan Jogja yang kuinginkan sejak masih anak-anak karena membaca puluhan kali sebuah novel petualangan empat gelandangan di sana. Setiap kali kita bercengkerama, kukatakan padamu betapa aku menyukai kisah khayalan itu. 

Hari yang aneh. Awal segala kesusahan dan kebahagiaan yang mau tak mau menjadi coretan memalukan. Kutinggalkan banyak hal di belakang sana. Kutinggalkan kau. Sampai kini masih mengaku sudah kutinggalkan segalanya. Nyatanya tidak. Mungkin suatu kali aku merasa lega begitu duduk di kursi sebuah kereta. Sementara itu, dari pintu gerbong yang lain, kau ikut masuk dan duduk di kursimu. Bahkan, kupikir aku tak pernah pergi. Tak pernah benar-benar pergi. Hanya saja waktu yang berlalu sudah tak bisa diulang lagi. 

Tentu saja, mencatat hal ini pasti membangkitkan lagi beberapa peristiwa. Mereka menyebutku gagal berdamai dengan rasa bersalah. Kuharap kau juga menyebutku demikian. Sesungguhnya, bagiku itu semacam pujian. 

Siang tadi, enam tahun yang lalu, kau meneleponku dan meminta maaf. Kau tak sanggup mengantarku ke bandara. Kau takut menangis dan tak ada lagi aku untuk memelukmu. Betapa memalukan ya? Kenapa kau yang meminta maaf padahal aku yang pergi? Aku tak pernah bilang padamu bahwa karena ketakutanlah–selain ambisi percuma–yang membawaku pergi. Apakah kau sudi memaafkan walau aku sudah seberengsek ini? Ah, enam tahun yang lalu serasa tak masuk akal. Kuhancurkan segala yang kita punya, lantas puing-puingnya kubawa hingga kini.
06.010717.20.25

Advertisements