BUKAN REVIEW.

Apa yang bisa kubilang di entry ini? Bahwa aku sudah menonton dua film itu lebih karena aktornya, sudah cukup jelas. Apa lagi yang kupunya? Sepertinya tidak ada. Sinopsis kedua film ini enggak menjanjikan pun ratingnya di Imdb dan Rottentomatos menyedihkan. Tapi ini adalah Bruce Willis dan Arnold Schwarzenegger, ikon Hollywood di masa jayanya yang punya banyak fans di seluruh dunia.

Biar kumulai dengan film Bruce Willis itu. Baca review orang-orang pasti bikin frustasi. Mereka enggak salah karena beberapa film yang dibintangi Willis di masa tuanya memang cukup mengecewakan. Terakhir yang bisa kubilang lumayan adalah film aksi berjudul Red dan sekuelnya, Red 2. Itu pun doi dibantu kekocakan John Malkovich. Kalau enggak, tamatlah sudah. Setelah itu, bisa dibilang Bruce hanya sebagai aktor tamu di film-film berikutnya, yang flop tanpa kesan. Mantanku, walau kecewa, pasti akan setuju dengan ini :v

Once Upon a Time in Venice (2017) rasanya tipikal film Willis setelah tua. Film aksi, kriminal, seperduabelas lucu. Datar saja. Karakternya juga. Mungkin, sebaiknya Bruce Willis memperbanyak film seperti 16 Blocks. Aku suka banget penampilannya di sana. Polisi tua yang buncit dan lamban. Suatu hari bernasib sial. Namun, berlainan dengan pendapat yang mengatakan film ini tipikal film TV, yang mana bagai semacam fragmen-fragmen yang sutradara terkendala durasi untuk menambah bobot konflik, aku bilang film ini cukup menyenangkan juga. Pasalnya, ada keputusan-keputusan yang enggak diduga. Tokohnya menghadapi masalah yang menimbulkan masalah baru, yang lantas membawanya ke masalah lainnya. Itu cukup kunikmati. Hanya saja, ia kehilangan greget. Isunya berkesan remeh, kurang menarik, dan itu benar. Plot utama enggak meng-cover karakter dan tindakannya. Dan tentu saja, jangan bandingin ini dengan Snatch (2000) besutan Guy Ritchie. Terlepas dari intensitas yang buruk, di poin itu, film ini kuancungi jempol. 

Lantas, ada apa dengan Arnold “Suasanaseger”? Aftermath (2017) adalah film drama-thriller. Menurutku, lupakan thrillernya. Film ini lebih kental dramanya dan biarlah drama saja. Beberapa review menunjukkan apresiasi pada kemampuan si Terminator ini, tentang bagaimana ia mampu “bicara” dalam podium drama. Arnold for you. Beliau yang sudah tua akhirnya bermain peran drama. Aku sudah tonton ia dalam aksi dan komedi. Drama, adalah hal baru buatku kalau bicara Arnold.

Doi beruntung. Usia senja membuatnya cocok dengan figur orang tua yang depresi. Lagi pula, Arnold jarang bicara. Di film selain aksi, ia juga begitu. Mungkin itulah image-nya. Sudah dibentuk sejak lama dari film-filmnya. Dan Aftermath adalah film depresi. Tak ada happy ending di sini, menurutku. Kaunya enggak akan lega walau film sudah usai. Cerita singkatnya, Arnold memerankan tokoh Roman yang suatu hari mendapatkan kabar bahwa pesawat yang ditumpangi istri dan putrinya mengalami kecelakaan di udara. Semua penumpang tewas. Didasarkan atas peristiwa aktual, jangan berharap film ini didramatisasi berlebihan. Coba lihat Flight-nya Denzel Washington yang mana karakter utamanya dihantam rasa bersalah begitu mendalam, lalu muncul dengan pencerahan yang didewakan moralitas. Penonton kebanyakan, aku juga pada beberapa level, suka pada permohonan maaf atas dasar sifat manusiawi dan moral yang sebenarnya kadang berlebihan. Aftermath tidak. 

Anyway, film ini lambat sekali temponya. Dialog film memang tersusun rapi dan gampang diikuti meski rawan membikin ngantuk. Tidak, film ini enggak meribetkan penonton dengan istilah atau teknis penerbangan ala Sully-nya Tom Hanks. Lagi pula, sejak awal ini adalah soal depresi. Depresi yang dilanda Roman sebagai keluarga korban dan Jake yang diperankan Scott McNairy (aku kepincut aksinya di film Argo) si petugas menara yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Ketika Roman menuntut pihak maskapai minta maaf karena telah “membunuh” anak dan istrinya, film enggak mengatakan padamu bahwa itu tindakan berbahaya. Reaksi Jake sebagai calon tumbal juga luar biasa sederhana, menurutku. Ketika dipanggil atasannya soal kecelakan tsb, yang ia tanyakan pertama kali adalah berapa jumlah korban yang meninggal. 

Sesuai judulnya, ini tentang periode waktu setelah terjadinya sebuah bencana. Fokusnya pada dua tokoh utama: Roman dan Jake. Aku sangat mengapresiasi film ini karena menurutku sederhana dan digarap sangat mendekati keputusan dasar (atau dangkal dan tiba-tiba) manusia sebagai individu saat menghadapi depresi. Dan yang paling utama, film ini membawa dampak buruk yang jelas pada masing-masing tokohnya: dendam. Pada beberapa jeda, aku sempat berpikir bahwa sutradara menginginkan penonton untuk tak usah ikut campur. Saksikan saja bagaimana depresi bisa membuat seseorang menyendiri, kehilangan dalam bisu, dan menjadi membosankan. Jangan menonton film ini jika mengharap akan terhibur oleh elemen thriller. Anda pasti kecewa.

Akhir kata, Bruce tampil dengan aura seorang pensiunan, masih seputar dunia kriminal dan bang bang. Arnold sendiri di sini tampil dengan drama. Keduanya menentukan peran masing-masing di dunia film setelah era otot sudah berlalu. Bagiku Arnold berhasil berhasil dan berharap akan ada lagi film drama yang ia bintangi. Bruce, belum. –03.050717.10.56

Advertisements