Seorang temanmu berkabar via surel di pertengahan tahun 2017. Kalian membahas banyak hal tentang perjalanan, hubungan sosial, impian, hingga kesulitan-kesulitan hidup yang lantas bersama kalian tertawakan. Ia cukup banyak tahu petualanganmu sejak Jogja, 2014. Petualangan asmara memang sengaja kau rahasiakan, tapi ia tak bodoh. Kau sempat mengaku sedikit khawatir meskipun saat ini kupikir itu berlebihan. Ketika mendapati cerita yang 90 persen utuh dari petualanganmu hingga sekarang, ia pun menuliskan harapan masa depan yang lebih baik bagi kalian masing-masing. “Semoga kau enggak pernah menyesal, Bang,” tulisnya yang kau bayangkan diucapkan dengan suara khas perempuan Sunda yang menghabiskan 5 hari dari tiap minggunya di Jakarta selama bertahun-tahun. 

Kau lantas menertawakan diri lebih keras karenanya. Tentu saja sesal selalu mengintai. Benar, kan? Ia telah ikut ke mana saja kau pergi, bahkan ke kamar mandi. Sesekali ia menunjukkan diri secara sekilas di antara kerumunan orang atau di balik awan yang kaupandangi ketika rindumu datang. Kautulis pada temanmu ini, jika setiap hari kau hanya bisa “makan” semangkuk air yang kau kaudidihkan lalu mencampurkan bumbu masak instan, berpura-pura itu adalah kuah mi instan, kau akan tergoda untuk menyesali bagaimana kau bisa berada dalam kondisi seperti itu. Kau tertawa lagi, yang ia baca beberapa jam setelahnya. Ia pun seolah mengingatkanmu bahwa sesulit apa pun itu, toh kita, maksudnya kau, masih bisa tertawa. 

Tentu saja. Aku tahu betul kalau kau tertawa setiap hari. Tiada hari tanpa tertawa. Bahagia saja sekalipun kau jarang mandi dan bingung harus di mana kau mencuci. Kepadanya pun kisahmu datang dalam wujud kalimat-kalimat lucu. Memang begitulah aku mengenalmu. Mereka mengenalmu. Hampir semua status Facebook-mu dibuat untuk melucu sampai garing dan najong senajong-najongnya–walau terselip rindu. Tapi iya, dari waktu yang berbeda, kau memang tampak menyedihkan ketika dipandang secara keseluruhan. Kau juga sadar itu sejak lama. Kira-kira sejak 10 ribu 9 ratus 16 tahun yang lalu. Namun, selain bakal lebih positif memandangnya dengan kacamata berbeda, kupikir kesulitan-kesulitan ini (kau menyebutnya penderitaan) memang hendak memberimu pelajaran berharga. Menurutmu ia masih menunggumu berlutut, menyerah kalah, lalu berhenti menertawakannya. Sial baginya, kau masih saja berengsek, bahkan pada sepi. Mungkin akan terus begitu sampai 102 tahun ke depan.

Kautuliskan ini sebagai catatan sekadarnya. Siapa yang tahu masa depan? Mungkin kelak bisa menjadi solusi semisal nanti kau tak mampu membeli satu tiket perjalanan mesin waktu saking miskinnya. Tak mengapa. Bagaimanapun kau sudah menitipkan doa, diam-diam melalui malaikat, pada temanmu dalam setiap pertengkaran, pergumulan, dan penyerahan diri. Dan ingatlah bahwa kau bisa menuliskan ini, tak lepas dari pengaruh bahwa kau sudah mandi. Saat air membasahi rambutmu kau tersadar air matamu juga menitik karena merasa, bisa mandi tiga hari sekali pun serasa istimewa. 
04.130717.

Advertisements