Aku tumbuh di desa kecil yang jauh dari keramaian. Namanya Lau Rempak. Kuhabiskan masa kecilku hingga SMP di sana. Jatuh cinta pertama, kedua, ketiga, keempat (aku enggak yakin yang kelima memenuhi kriteria) juga di sana. Oke, puppy love yang menyenangkan. Aku belajar menulis puisi saat itu saking hebohnya. 

Desaku memang berada di pelosok. Persisnya di perbatasan dua kecamatan. Terpencil, dikelilingi ladang dan hutan. Terasing dari pembangunan. Aku ketika kelas 1 akan takjub kalau melihat truk pengangkut kayu yang rodanya besar dan enam. Kalau tak salah ingat, listrik baru muncul ketika aku kelas 3 SD. Sebelum itu rumah-rumah penduduk hanya menggunakan lampu minyak tanah sebagai penerangan. Lampu petromak yang cahayanya terang, serasa matahari di malam hari, hanya satu-dua rumah yang menggunakannya. Salah satunya adalah warung terbesar di Lau Rempak. 

Di rumah kami ada satu lampu semprong yang agak besar, dua yang lebih kecil, dan dua lagi yang enggak pakai semprong. Dua yang terakhir ini lebih sering digunakan di dapur kami yang berlantai tanah. Satu semprong kecil pasti ada di kamar kami, kamarku bersama abang dan adikku yang laki-laki. Lampu itu diletakkan di lantai dekat pintu yang tidak boleh ditutup ketika kami tidur. Dan entah demi apa, senja kali ini aku mengingat persis lampu itu dan sudut kamar, dekat ke engsel pintu yang menerima bayangan punggung lampu. Aku ingat permukaan triplek pintu kamar kami, corak lantai beton yang mengilat, bayangan pakaian, aroma anti nyamuk bakar, lolongan anjing di kejauhan. Lampu minyak tanah itu punya pegangan yang di bawahnya berbentuk bundar bergambar. Hanya saja aku tak berhasil mengingat gambarnya. 

Kupikir memang ada. Namun, hal yang paling utama adalah dari celah pintu yang terbuka cukup lebar, kamar kami langsung menghadap ruang tengah, aku bisa melihat bapakku tidur beralaskan tikar. Aku sering keluar dari kamar sambil membawa bantal dan sarung lalu tidur di samping beliau. Ada kalanya aku sering bermimpi buruk dan hanya bisa tertidur lagi jika berada di dekatnya. Beberapa waktu setelah listrik masuk desa, bapakku jadi lebih sering tidur di ruang tamu, di depan TV berwarna pertama di rumah kami. Sementara itu, ibuku tetap tidur di kamar satunya bersama adik perempuanku yang masih kecil. 

Malam-malam setelah terbangun karena mimpi buruk, aku pasti disuruh menutup mata oleh bapakku, setelah berhenti nangis. Mimpi burukku tak jauh dari monster. Namun, yang paling buruk dan sering adalah waktu yang berjalan dengan sangat cepat. Semua hal bergerak seolah dikejar sesuatu, bahkan ketika saat orang berbicara. Seolah-olah satu jam itu cuma semenit. Temponya berubah drastis dan membuatku ketakutan sampai menjerit dalam tidurku. Tapi aku tahu kalau bapak di sampingku, maka aku bisa tenang. Di sampingnya aku jadi lebih sering memperhatikan lampu semprong paling besar yang menerangi ruang tengah rumah kami. Cahaya jingga yang menerpa langit-langit dan sebagian besar masuk ke kamar tempat ibu dan adik perempuanku terlelap. 

Sedihnya, perjalanan merantau entah ke mana setelah dewasa begini, petualangan-petualangan demi omong kosong jati diri, kesedihan, kerinduan, dan waktu yang takkan terganti mulai membuatku memosisikan lampu itu dengan suatu hal yang berbeda. Dan air mataku menitik karenanya. 
01.170717.18.11

Advertisements