Ada beberapa kejadian lucu ketika aku mengedit naskah novel. Salah satunya adalah ketika Kata Pengantar dan Ucapan Terima Kasih pun harus diedit juga. Ternyata masih ada penulis yang lalai di sana. Ini bukan typo, melainkan memang penulisnya enggak tahu. Padahal cuma dua-tiga paragraf! Parahnya, profil penulisnya juga enggak mau ketinggalan seolah-olah “diedit” itu lagi ngetren. Ahak hak hak. 

Jujur, aku sering sebal kalau nemu kesalahan kecil dalam penulisan. Enggak habis pikir. Mengaku penulis kok menggunakan preposisi dan prefiks saja enggak becus. Dan itu memang sering kejadian. Dalam sudut pandang lain, seseorang harus maklum. Bagaimanapun, tulisan itu biasanya cuma dibaca oleh khalayak umum yang memang enggak paham kaidah bahasa. Yang penting ngerti. Cek saja status-statusnya di media sosial. Rasanya enggak ada yang benar-benar pernah belajar bahasa Indonesia di bangku sekolahan. 

Namun, aku tetap berterima kasih pada naskah-naskah romance yang pernah kuedit sejak 2015. Soalnya, ceritanya “lucu” abis. Enggak, itu bukan romance gagal. Pada dasarnya banyak novel romance yang kuedit memang dilengkapi unsur komedi. Namun, rata-rata yang bikin akunya ngakak justru kenajongannya. Alhasil, sebelnya rada kebayarlah, selain memang aku dapat bayaran rupiah juga. Namun, penghormatanku tetap kuangkat tinggi pada semua penulis yang pernah menggunakan jasaku. Aku salut. Mereka ini punya energi untuk terus bertahan dan menyelesaikan karyanya walau senajong apa pun itu. Kupikir bukankah itu suatu hal besar yang bisa dimanfaatkan untuk membuat karya yang lebih baik di masa depan? Biar kelak enggak najong lagi. 

Nah, bicara soal najong dan kenajongan, jangan sampai pusat bahasa memasukkan kata ini ke dalam KBBI.

Advertisements