Betapa keren tagline film ini: Leave Everything Behind. Dan kisahnya juga memukau–dalam beberapa level. Misalnya pernyataan bahwa tujuan pemeran utama bukanlah sebagai petualangan atau penaklukan dalam hidup. Justru lebih sederhana.

Seperti beberapa post tentang film di blog ini, aku takkan memosisikannya sebagai review. Namun, jika pembaca belum menonton film rilisan 2013 ini, kupikir bolehlah dijajal di waktu luang. Durasinya hampir dua jam dan sejujurnya tak banyak greget atau kejutan seperti film petualangan fiksi. Tapi lumayan mengasyikkan.

Film ini berdasarkan kisah nyata, diadaptasi dari buku sukses tentang perjalanan penulisnya sendiri melintasi benua Australia. Robyn berjalan kaki sejauh seribu tujuh ratus mil atau kira-kira 2.735km ditemani 4 ekor unta dan seekor anjing hitam yang setia. Ia bertujuan mencapai Samudera Hindia setelah melewati waktu selama berbulan-bulan di tanah Australia yang kering dan gurun.

Perjalanan Robyn memang tak begitu mengesankan. Ia praktis hanya dua kali menghadapi ancaman dari luar dirinya. Sementara itu, ada ancaman yang juga datang dari dalam dirinya. Sebenarnya aku mencela motif perempuan itu meski di satu sisi aku mengakui bagaimana bisa kita menyalahkan motif. Masalahnya begini, Robyn bilang seperti yang kutuliskan di paragraf awal, bahwa perjalanannya bukan soal penaklukan atau petualangan. Ketika ada yang bertanya padanya alasannya ingin melintasi Australia, ia akan bilang, “Why not?” Mengecewakan banget! Buatku sendiri, motif Robyn jadi berkesan hanyalah main-main. Apalagi fakta ia mencari dukungan sponsorship dari majalah National Geographic dan mendapatkan bantuan seorang fotografer yang kelak mempublikasikan perjalanannya. Pada titik ini, perjalanan yang luar biasa bagi kebanyakan orang itu terasa perjalanan wisata saja baginya walau Robyn mengalami kesulitan demi kesulitan. Dan ini membuatku membenci sosok seperti Robyn dan para “petualang” lainnya serupa dia. 

Inkonsistensi tokoh Robyn muncul ketika kenyataannya ia ingin melupakan masa lalunya atau beberapa peristiwa buruk yang membuat hidupnya tanpa makna. Maka, ia butuh tujuan baru dan memilih biru dan indahnya laut.

Aku mulai membenci film tentang pencarian jati diri ketika menyadari bahwa itu hanya berlaku buat mereka yang mapan secara ekonomi. Rasanya tak ada jati diri yang muncul dari tokoh miskin yang mungkin tak berpendidikan tinggi. Jati diri hanya milik orang mapan, modern, yang terjebak dalam rutinitas. Yang miskin hanya memikirkan perut. Yang terbelakang memikirkan cara pandai. Robyn yang dalam kalimat-kalimatnya menyatakan itu adalah semacam gairah tertentu, ia suka gurun, udara bebas Australia. Keputusan memasukkan kilas balik masa kecil Robyn dan sebagainya yang bersifat emosional dan psikologis, yang muncul selama perjalanannya, pada akhirnya kutuduh sebagai elemen penguat motif tokoh yang dilakukan pembuat film. Sebatas itu. Agar ada nilainya. Agar tagline film itu masuk akal dan memukau. Meski begitu, aku belum membaca buku Tracks yang menurut kabar menjadi best-seller tsb.

Kuberi nilai 8 untuk film ini sekalipun kecewa. Penilaianku memang enggak masuk akal. Kupikir panorama cantik selama perjalanan sepanjang film, yang tentu bakal berbeda dengan warna daerah tropis, pantas kuapresiasi. Kalau tidak, kuharap itu bukan kejahatan.
Ian

Advertisements