Suatu kali aku naik kereta Kertajaya. Si Ular Besi itu bertolak dari stasiun Pasar Senen menuju Surabaya. Suatu pemandangan yang kulihat setelah kira-kira satu jam lebih duduk di kursi dekat jendela adalah pedesaan dan sawah-sawah selepas stasiun Pabuaran. 

Persisnya aku bisa melukis lanskap itu, menumpukkannya dalam kanvas sepanjang belasan kilometer, mencoba mengabadikan kondisinya saat ini di tahun 2017. Sesaat aku yakin kondisinya akan berubah seiring tahun berganti dan peradaban semakin maju. Lantas segera menjadi masa lalu yang kelak dirindukan. Namun, aku belum melukis lagi, di kanvas, sejak 2015. Itu pun cuma jeda melepas dahaga setelah hampir 5 tahun sebelumnya juga berpuasa mengajak kuas menari. 

Namun, sungguh itu pemandangan yang membuat haru. Sejauh yang bisa kuingat (aku tak mengambil foto) lanskap itu tersaji seperti gulungan rol film yang dibentangkan seluruhnya sepanjang rel kereta. Aku melihat persawahan yang sudah dipanen. Warna cokelat kering tersapu kuning pucat dari sisa batang padi memenuhi hampir semua daratan yang terhampar di samping rel. Gubuk-gubuk rendah di tengah masing-masing petak sawah. Di kejauhan terdapat bukit-bukit rendah dengan sedikit pepohonan. Di langit, biru alami dihiasai awan putih yang jarang. Cuaca cerah dan pemandangan ini mustahil bisa kulukis ketika aku masih SD. Alfred Sisley punya satu lukisan yang berwarna serupa dengan pemandangan kali ini. Cuaca terik dan kering sekaligus berangin bisa kurasakan walau aku sedang di dalam kereta ber-AC. Luasnya dataran itu meyakinkanku. Rindu menguatkannya.

Pemandangan menarik masih tersaji sepanjang perjalanan kereta. Ada desa-desa yang dihubungkan jalan kecil, sebagian sudah diaspal, yang sejajar dengan rel kereta. Antara jalan dan rel dipisahkan, sekali oleh kolam-kolam bergubuk rendah dan lainnya berupa lahan yang ditumbuhi perdu hijau gelap. Air kolam itu bergelombang kecil dan banyak, khas permukaan danau luas yang dibelai embusan angin. Di pinggir jalan itu terdapat rumah-rumah penduduk, berjejer dengan jarak bervariasi. Pada sisi jalan terdekat rel, terdapat warung, beberapa kolam, lalu lapangan kecil. Orang-orang bermain sepakbola. Di jalan orang berjalan kaki. Beberapa motor melintas. Jalan itu memanjang ke bagian yang tidak ada rumah penduduknya. Aspal hitam dipenuhi bayangan daun-daun pohon jati di kiri-kanan jalan. Semak belukar membentuk pagar pembatas yang membawaku ke pemandangan serupa di salah satu desa di Deli Serdang, Sumatera Utara. 

Situasi sore itu benar-benar luar biasa. Membikin aku haru dan ingin menangisi sesuatu yang tak persis aku mengerti. Di jalan tanah itu aku membayangkan aku sedang berjalan menuju warung. Di sana sudah berkumpul teman-temanku yang akan menyambut dengan satu-dua kalimat yang berasal dari cerita yang mereka bahas sebelum aku datang. Lalu kami bisa menuju lapangan setelah seseorang di antara kami kembali dari memompa bola di bengkel motor tak jauh dari warung itu. Gerombolan kami akan menghabiskan petang di lapangan, tertawa sampai kehabisan tenaga. Begitu matahari tenggelam di peraduannya, kami semua menuju warung tadi, memesan minuman dingin dan memperbincangkan beberapa kelucuan selama bermain bola. Kaki berdebu dibasuh di kolam dekat warung. Lampu-lampu di tiang bambu sudah menyala. Lampu-lampu milik rumah terdekat dengannya.

Aku membayangkan aku di sana, di jalanan itu di suatu petang yang lain, berjalan ke rumah temanku di pinggir jalan. Rumah beton beratap genting merah tanah. Halaman rumahnya ditumbuhi rumput, teduh karena satu-dua pohon mangga ikut menjaganya. Jendela kaca rumahnya mirip gaya jendela bangunan Belanda. Aku berniat mengajaknya memancing ke sungai yang lumayan jauh. Ke arah datangnya kereta. Di bawah jembatan beton yang megah tapi serasa salah tempat. Di satu waktu aku bisa melihat temanku yang lain sedang berkendara dengan motornya, melintasi jalan yang diapit persawahan. Kurasakan angin meniup keningnya. Ia tak kuasa menahan godaan memacu motornya lebih cepat lagi, yang kelak akan ia rindukan ketika dewasa nanti ia mengendarai sedan. Bisa kudengar deru mesin motor itu di antara bising kereta. Di sebuah pertigaan, pintu perlintasan kereta, ia akan berhenti sejenak karena seorang teman karibnya sedang bersantai di posko ronda berdinding tepas. Sebagian dicat putih. Sayang, cat tak cukup. Dari sana mereka akan memutuskan berangkat ke rumah temanku sebelumnya, tempat kami sedang menunggu balasan SMS. Fragmen kisah anak desa ini terjadi dalam satu kali kereta melintas dengan kecepatan 40-60km/jam. Betapa cepat waktu berlalu dan kudapati aku sudah 30. Antena-antena TV yang menunjuk langit terlihat usang dan menunjukkan apa upaya terbaik yang bisa mereka sajikan di dalam masing-masing rumah. Mungkin satu-dua siaran pertandingan Serie A di jam 2 dini hari.

Membayangkan peristiwa imajiner ini membuatku haru. Aku tak pernah tinggal di desa seperti bentangan rol film begitu. Diam-diam aku berharap itu adalah desa kelahiranku. Tempatku tumbuh dan menjalani masa kecil sebelum merantau ke kota begitu aku 17 tahun. Namun, desaku punya lanskap berbeda dari desa ini. Desaku di dataran tinggi. Banyak ladang berada di tanah miring dan curam. Dikelilingi sungai. Sulit melihatnya dalam satu garis lurus, dari ujung ke ujung. Menatap desaku akan lebih bernuansa, dan ini cara satu-satunya, dengan menggunakan sudut pandang seekor elang. Di sana kehidupan akan hidup ketika dilihat dari atas. Dari balik pohon rambung, kelapa, dan durian.

Pemandangan itu berakhir ketika kereta sampai di Indramayu. Aku pun memilih membaca buku yang akan menemaniku sampai stasiun tujuan. 
Enggak tahu lagi harus bagaimana menuliskan pengalaman ini…

Advertisements